Fimosis: Penyakit Kelamin Anak yang Solusinya adalah Sunnat

15 Dec 2016

Sebagai orangtua, bagi kita anak adalah harta yang mahal, yang jikalau ditukar dengan kemewahan apapun, kita tidak akan mau melakukannya. Itulah prinsip setiap orangtua, kecuali orangtua yang sudah “gila”, hilang akalnya, yang rela dan mau menelantarkan anaknya, menjualnya dan memperbudaknya mencari uang demi kesenangan sesaat.

Jikalau anak sakit, maka biasanya kita lansung membawanya ke dokter. Dan biasanya diagnosanya tidak jauh-jauh dari batuk pilek, meriang, dan sejenisnya. Bahkan tidak jarang pula, ada dokter yang lansung kasih obat anti biotik. Padahal, itu tidak lazim juga. Bisa jadi lho, demam yang menimpa itu salah satu ciri kelamin anak laki-laki yang bermasalah.

Inilah yang disampaikan oleh pemilik Rumah Sunatan, dr Mahdian Nur Nasution, SpBS, sebagaimana dikutip dari Republike Online. Ia menyayangkan sebagian dokter yang jikalau ada anak yang demam panas, maka yang diperiksa hanya tenggorokannya saja. Jarang ada yang memeriksa kelaminnya. Padahal fakta menyebutkan dari suatu literatur ada 20 sampai 40 persen angka kejadian fimosis pada bayi usia di bawah enam bulan. Ibaratnya dari 10 anak, dua sampai empat diantaranya menderita fimosis.

Apa itu Fimosis?
Fimosis ialah keadaan di mana terjadi konstriksi atau penyempitan dari ujung kulit depan (foreskin) penis. Fimosis bisa ditemukan karena faktor genetikal (bawaan sejak lahir) atau juga bisa akibat peradangan lubang pada kulit penis.

Pada tahun 2007, World Health Organization (WHO) memperkirakan ada sepertiga laki-laki berusia lebih dari atau sama dengan 15 tahun di seluruh dunia yang disirkumsisi. Dari angka ini, 70 persen di antaranya dilakukan atas latar belakang agama, sisanya dilatarbelakangi oleh alasan kesehatan dan adanya indikasi medis yang menyebabkan pasien dianjurkan untuk segera dilakukan sirkumsisi. Sunat sebenarnya sudah dilakukan sejak dulu. Kulit penis merupakan sumber penyakit, banyak penyakit yang muncul kalau alat kelamin masih tertutup. Awal penyakit terjadi pada kulit yang terinfeksi, lama kelamaan bisa menjalar tempat lain.

Di Indonesia, orang tua biasanya tidak tega kalau anak harus disunat dari bayi. Padahal di negara lain anak sejak bayi sudah disunat, bahkan di Australia kurang dari satu bulan, begitu juga di Arab Saudi. Bahkan cucu Rasul, Hasan Husen sunat umur satu mingguan. Kalau bicara medis enggak boleh enggak tega. Harus sunat daripada anaknya infeksi terus menerus. []


TAGS kesehatan


#Komentar Non Aktif Sementara. Mohon Maaf
-

Search