Hari Kartini, Makna Terdalam yang Tertutupi Seremonial Acara

21 Apr 2017

Hari ini, tanggal 21 April adalah Hari Kartini, hari yag diperingati secara nasional, dari Sabang sampai Merauke. Terutama tentunya oleh para perempuan dan para wanita Indonesia. Hanya saja seringkali, peringatan itu hanya sekadar seremonial belaka. Anak-anak dipakaikan pakaian adat atau pakaian lainnya, kemudian berpawai. Habis itu selesai. Kita seringkali lena dan lalai dengan tampilan muka. kemudian lupa dan abai dengan makna. Seringkali begitu.

Padahal, jikalau ditelisik lebih dalam, ada makna besar di balik peringatan Hari Kartini itu sendiri, terutama bagi para wanita Indonesia, yang mengajar nilai-nilai pendidikan, nilai-nilai kemajuan, dan tidak mau di”pasung” dalam ketidakberdayaan. Sebab dalam budaya kita, perempuan itu seolah-olah kerjanya hanya didapur, sumur, kemudian kasur. Begitu sering kita dengar, dan sering kita dapati dari candaan orang-orang. Dan anehnya lagi, ini juga diaminkan oleh sebagian wanita.


Tugas dan peranan yang seharusnya diambil oleh para wanita jangan hanya sampai disitu. Jangan hanya didapur untuk memberikan makanan terenaknya kepada suaminya dan anak-anaknya. Itu juga penting, jangan sampai diabaikan. Sebab, itu adalah khidmah (pelayanan) yang diberikannya kepada keluarganya demi kebahagiaan dalam rumah tangga. Tapi, jangan mentok disitu.  Ke sumur juga, untuk menguci baju dan sejenisnya. Begitu juga dengan kasur dalam point melayani suami. Hanya saja jangan mentok disitu. Peranan yang bisa diambil perempuan jauh lebih dari itu.

Pandangan yang sempit ini, yang seolah-olah menempatkan perempuan hanya berada di tiga area tadi (dapur, sumur, kasur) membuat sebagian mereka merasa tidak perlu berpendidikan tinggi. Padahal, dalam membentuk anak yang cerdas dan pintar, dibutuhkan juga ibu yang cerdas dan pintar, yang berpendidikan. Kuliah dan berpendidikan tinggi itu, goalnya bukan kerja. Jikalau tujuannya itu, tanpa ijazah pu bisa. Lebih mulia dari itu, yaitu menyiapkan generasi masa depan yang lebih berkwalitas demi kemajuan bangsa.

Maka, memajukan pendidikan ibu-ibu dan para wanita adalah sebuah kewajiban… demi kemajuan bangsa…

Kemudian yang tidak kalah pentingnya, di dalam benak sebagian bapak-bapak atau laki-laki, jangan sampai menganggap wanita itu sebagai manusia nomor dua yang berada di bawahnya. Itu salah besar. Dalam bahasa Hadits, perempuan itu kandungnya laki-laki. Artinya, kedudukannya setara. Maka, laki-laki jangan Ngeboss, merendahkan wanita. Tanpa wanita, laki-laki di dunia ini mau jadi apa? Bahkan, jikalau sekali saja para laki-laki itu ditempat di posisi wanita dan menjalankan tugas-tugas yang biasanya para wanita lakukan, maka para laki-laki itu akan keok. Yakin. [Pakih Sati]


TAGS umum


-

Search