Aksi Simpatik 55: Antara Tuntunan Independensi Hakim & Tekanan Massa

5 May 2017

Pada hari ini, Jumat (5/5), sejumlah elemen massa umat Islam akan mengadakan aksi simpatik 55, dengan tujuan meminta hakim untuk independen dalam memutuskan perkara agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Aksi tersebut akan  diawalai shalat berjamaah bersama di Masjid Istiqlal, dan akan dilanjutkan dengan aksi long march ke Mahkamah Agung. Sebagaimana dimuat sejumlah media, diperkiraan puluhan ribu orang. Dan waktu subuh tadi, Masjid Istiqlal sudah mulai dipadati oleh orang-orang yang akan ikut dalam aksi simpatik ini.


Hanya saja, sebagai bahan catatan, ada beberapa point yang harus diperhatikan:

Pertama, Jangan Anarkis
Alhamdulillah, sejak dimulainya Aksi Bela Islam I sampai sekarang Aksi Simpatik 55, yang semuanya berkaitan dengan kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berlansung dengan baik dan aman. Kalaupun ada insiden kecil, maka itu tidak seberapa, tertelan oleh damainya dan santunnya aksi yang dilakukan oleh Massa Umat Islam. Tentunya sebagai Netizen dan rakyat Indonesia, penulis berharap aksi kali ini juga berlansung dengan damai. Jangan sampai ada aksi anarkis yang terjadi. Sebab, jikalau sampai terjadi aksi anarkis, maka yang dirugikan juga para peserta aksi sendiri plus rakyat kebanyakan. Maka Kedamaian tanpa Anarkis barang mahal yang tidak diperjualbelikan di pasaran, dan tidak dijual. Damainya Indonesia jangan sampai dirusak oleh segelintir oknum.

Dan tentunya yang tidak kalah pentingnya adalah berhati-hati dengan oknum yang menyusup, yang berusaha mengambil kepentingan dari issu-issu massa yang sedang hangat. Seringkali, para pengekor ini alias para oknum mengambil kesempatan dalam kesempitan. Baginya, yang penting itu kepentingan politik dan “perutnya” tersalurkan. Harus hati-hati degan oknum-oknum ini.

Kedua, Hormati Putusan Pengadilan
Apapun nanti keputusan pengadilan yang dikeluarkan oleh Hakim, maka semua elemen masyarakat harus bisa menerima dengan baik. Sebab, yang namanya keputusan, tidak ada yang mampu membuat puas semua pihak. Bisa jadi kelompok penggugat senang, namun yang tergugat tidak. Begitu juga sebaliknya. Hanya saja, sebagaimana para massa Aksi Simpatik 55 menuntut independensi hukum, kita juga menuntut hal yang sama. Keadilan harus ditegakkan di bumi Indoesia. Jikalau keadilan sudah tiada, maka tidak ada lagi gunanya negara. Ia hanya akan menjadi tempat bernaung kaum-kaum pelaku kezaliman.

Harapannya, massa menerima keputusa hakim dengan baik. Independensi hakim memang dibutuhkan dan harus ada, namun jangan menjadikannya sasaran “cacian” dan “makia” jikalua keputusannya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Jikalau tidak sesuai, maka tempuhlah langkah selanjutnya yang lebih elegan dan sesuai aturan hukum. Jangan sampai kasus penistaan agama ini menjadi gerbang masalah baru yang tidak kunjung habisnya di Indonesia. Masih banyak PR besar yang harus diselesaikan ke depannya.

[Pakih Sati]


TAGS umum


-

Search