Menjaga Etika Kritik di Media Sosial

13 May 2017

Dalam dunia yang sudah serba terbuka ini, memang setiap orang bisa menyampaikan uneg-unegnya. Berbagai media sosial siap menampung kegerahannya. Ada facebook, ada twitter, ada juga blog berjamaah, dan banyak lagi bentuk lainnya. Dunia maya sudah menyibak segala bentuk sekat-sekat kehidupan nyata. Sekali klik saja, maka semua yang dituangkan di media akan lansung di lihat dunia.

Dan bagi Pemerintah, di saat masyarakat begitu melek dengan dunia teknologi, bahkan ada program yang mendorong mereka untuk mengenalnya dengan baik, harus ada sosialisasi hukum yang berkaitan dengan UU ITE. Sesalah-salahnya rakyat, tetaplah pemerintah yang bertanggungjawab. Sebab, mereka hanyalah korban teknologi yang seringkali mengikuti arus informasi tanpa filter ilmu dan diri.

Bebas Namun Beretika

Jikalau seseorang ingin melayangkan kritikan, baik kepada pemerintah maupun kepada personal, maka itu adalah sebuah yang baik dan layak dihargai. Namun, ada baiknya memperhatikan beberapa hal berikut ini. Sebab, kritik yang tidak beradab, malah akan memancing masalah selanjutnya. Bukan malah menyelesaikan.

Pertama, Pakai hati. Jikalau mengkritik, kritiklah dengan hati, bukan emosi. Dalam artian, objek yang dikritik itu adalah sesuatu yang salah dan memang layak untuk dipersalahkan. Jikalau ada kebijakan pemerintah yang layak dikritisi, maka kritisilah dengan pemikiran yang dirasa lebih baik dari pemikiran yang dijalankan. Jikalau program dijalankannya dirasa sudah baik, maka dukunglah. Jangan mencari celah lagi untuk menyalahkan.

Kedua, kritik bukan celaan. Sebelum memberikan statement apapun, maka tentukanlah terlebih dahulu apakah yang dilakukan itu kritikan atau celaan. Jikalau kritik, maka lakukanlah. Sebab, sebuah kritik pasti akan disertai oleh adab dan etika. Ia berasal dari hati dan idealisme. Sedangkan jikalau sifatnya celaan, maka campakkanlah. Sebab, ia berasal dari emosi dan bersifat subjektif. Biasanya, celaan itu melukai dan bertujuan untuk menjatuhkan.

Ketiga, objek yang dikritik. Perhatikan juga siapa yang akan dikritik. Jikalau teman sendiri, tentu bisa melakukannya sambil Slengekan. Namun, jikalau melakukannya kepada pemimpin atau pejabat atau pihak terhormat, maka lebih berhati-hatilah menjaga etika. Kadar ilmu itu berkaitan dengan kadar etika. Orang yang mulutnya kasar dan perbuatannya menyakitkan, maka itu tanda ketiadaan ilmu di dalam jiwanya.

Keempat, pakai ilmu. Jangan asal kritik. Gunakan akal. Dahulukan ilmu. Belakangkan emosi. Ketika sebuah kritikan tidak lagi berdasarkan ilmu, maka ia tidak layak didengarkan dan tidak layak disampaikan, sebab itu hanyalah omong kosong yang tidak ada nilainya sama sekali.

Kelima, bukan atas dasar nepotisme. Adakalanya ketidakberhasilan seseorang meng-golkan jagoannya dalam pemilihan membuatnya tidak bersenang hati dengan pemerintah terpilih. Sialnya, rasa sakit hati itu masih bersemayam di dalam jiwa. Akibatnya, keinginan untuk mengkritik semua kebijakan, terus tumbuh dan digencarkan. Tentunya, ini tidak layak. Ketika pesta pemilihan selesai, maka langkah harus disatukan lagi demi kebaikan bangsa. Jikalau program yang dilakukannya bermasalah, maka kritiklah atas dasar maslahah (kebaikan), bukan nepotisme.

Keenam, lafadz dan caranya.  Ini juga penting untuk diperhatikan dalam mengkritik. Lafadz dan cara yang digunakan juga harus beradab. Salah-salah, esensi yang ingin disampaikan malah nanti tidak tertangkap. Saya rasa, inilah yang menyebabkan mengapa banyak kritikan itu tidak mendapatkan sambutan baik. Bahkan, banyak yang diabaikan. Cara yang salah, dan lafadz yang tidak seharusnya.

Ketujuh, jangan tergesa-gesa. Artinya, sebelum kritikan itu dilayangkan, perhatikan dulu apa yang akan disampaikan; apakah sebuah kenyataan atau sekadar asumsi, atau jangan-jangan hanya sebuah gosip yang tidak berdasar. Sebagai manusia yang memiliki kemampuan pikir, tentu bisa membedakan mana yang hakikat dan mana yang asal jablak saja.

Itulah beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melayangkan kritikan di social media. Setiap orang berhak menyampaikan pendapatkannya, namun etika tetap harus dijaga. Tinggi atau rendahnya sebuah peradaban dan kebudayaan, dilihat dari etika yang dijalankan dalam hubungan kemanusiaan dan ketuhanan.

[Pakih Sati]


TAGS umum Teknologi


#Komentar Non Aktif Sementara. Mohon Maaf
-

Search