Hukum yang Berlaku Khusus Untuk Sejumlah Orang di Bulan Ramadhan

17 May 2017

Dalam menjalankan ibadah puasa, terurama puasa Ramadhan, ada beberapa kalangan yang mendapatkan hukum khusus, yaitu:

-Musafir
 Jikalau Anda dalam perjalanan, maka Anda mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa. Kemudian ketika Anda sudah selesai melakukan perjalanan, Anda wajin menggantinya sebanyak hari yang Anda tinggi.
Dalam Al-Quran al-Karim dijelaskan:
“Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Surat al-Baqarah [2]: 184)
Jikalau ia mampu berpuasa dalam perjalannya dan melakukannya, maka itu lebih baik. Jikalau ia tidak mampu, maka tidak berpuasa lebih baik baginya. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudry radhiyallahu anhu, “Kami berperang bersama Rasulullah Saw dalam bulan Ramadhan. Di antara kami ada yang berpuasa, dan di antara kami ada yang tidak. Orang yang berpuasa tidak menghina orang yang tidak berpuasa, dan orang ang tidak berpuasa tidak menghina orang yang berpuasa. Mereka berpendapat bahwa orang yang kuat, kemudian berpuasa, maka itu lebih baik baginya. Dan mereka berpendapat bahwa orang yang lemah, kemudian tidak berpuasa, maka itu baik.” (Hr Muslim)


-Sakit.
 Jikalau Anda sakit dan tidak mampu berpuasa, maka berbukalah karena Anda mendapatkan keringanan dari Allah Swt. Namun jikalau Anda mampu melakukannya, maka berpuasalah karena itu lebih baik bagi Anda. Jikalau penyakit yang Anda idap itu masih bisa diharapkan kesembuhannya, maka ditunggu sampai sembuh. Jikalau sembuh, maka Anda harus segera berpuasa dan menqadha hari-hari yang Anda tinggalkan. Jikalau penyakit yang Anda idap tidak mungkin diharapkan kesembiuhannya, maka Anda boleh tidak berpuasa dan Anda harus bersedekah untuk setiap hari yang Anda tinggalkan sebanyak satu mud makanan.
Hal ini berdasarkan firman Allah Swt:
“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin.” (Surat al-Baqarah [2]: 184)

-Orang yang tua renta
Jikalau Anda seseorang yang sudah tua-renta, dan tidak mampu lagi berpuasa, maka Anda harus menggantikan setiap hari yang Anda tinggalkan dengan memberi makan orang miskin sebanyak satu Mud.
Hal ini berdasarkan perkataan Ibn Masud radhiyallahu anhu:
“Diberikan rukhashah kepada orang yang tua renta untuk memberikan makan seorang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkannya, dan tidak wajib qadha baginya.”

-Perempuan hamil dan menyusui.
Jikalau Anda khawatir terhadap diri Anda sendiri atau anak Anda, maka ada baiknya Anda berbuka saja. Kemudian gantikanlah/qadha’ pada hari-hari yang lainnya sebanyak yang Anda tinggalkan. Dan jikalau Anda memiliki kelapangan rezki, maka berilah makan satu Mud setiap harinya kepada orang miskin sesuai dengan jumlah hari puasa yang Anda tinggalkan.

Hukum ini juga berlaku bagi perempuan menyusui jikalau khawatir terhadap dirinya sendiri atau anaknya, sedangkan ia tidak mendapatkan seorang wanita pun yang akan menyusui anaknya atau tidak ingin memberikannya kepada orang lain. Hukum ini berdasarkan firman Allah Swt:
“Dan bagi orang-orang yang mampu melakukann, maka ia membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin.”
Maksud mampu di sini adalah mampu dengan kesulitan yang besar.

Ada satu hal yang harus diperhatikan baik dan sering dipertanyakan oleh sebagian besar wanita, yaitu jikalau Anda masih memiliki hutang puasa, kemudian Anda sengaja melalaikannya sampai masuk Ramadhan berikutnya, maka Anda wajib memberi makan satiu orang miskin setiap harinya sebagai balasannya, dan kewajiban membayar puasa itu masih tetap ada di pundak Anda.

[Pakih Sati]


TAGS opini umum


-

Search