Loyalitas Kepada Negara di Atas Loyalitas Kepada Kelompok

18 May 2017

Salah satu pangkal masalah yang dialami anak Bangsa, termasuk bangsa-bangsa lainnya dalam konteks perpolitikan adalah ketika mereka mengutamakan loyalitas kepada kelompok dan golongan daripada loyalitas kepada Negaranya sendiri. Metode dan Gaya berpikir seperti ini harus diubah. Jikalau tidak, suasana aman dan kondusif dalam perpolitikan akan ikut terancam.

Kenapa bisa begitu?

Contoh gampangnya, si Budi dari Partai Kambing ikut dalam pemilihan anggota DPR RI untuk wilayah Jogjakarta. Kemudian ia menang. Biasanya dan yang terjadi sekarang, loyalitasnya tetap kepada partainya. Dalam artian, jikalau ada keputusan yang akan diambil, maka yang dilirik pertama kali adalah keuntungan apa yang akan didapatkan partainya dan kerugian apa yang akan menimpa partainya. Jikalau banyak keuntungannya, maka ia akan ikut bersama keputusan itu dan ikut memperjuangnya. Jikalau tidak atau justru merugikan kelompoknya, maka ia akan menolaknya. Walaupun sebenarnya keputusannya itu akan menguntungkan rakyat banyak. Walaupun harus merugikan kepentingan partainya, itu bukan masalah. Sebab, ketika ia terpilih sebagai anggota Dewan, sebagai wakil rakyat, maka loyalitasnya adalah kepada rakyatnya, bukan lagi kepada partainya. Itu perlu dipahami dengan baik.


Contoh lainnya. Si Jon adalah pendukung salah satu calon dalam pemilihan presiden. Ia menjagokan Bpk. Hendri. Hanya saja dalam pilpres kali ini, calonnya kalah oleh calon lainnya. Maka, Si Jon NGamuk-ngamuk. Ini juga loyalitas yang salah. Pemilihan itu adalah proses. Jangan dibuat berbelit-belit. Setelah proses selesai, harus masuk langkah selanjutnya. Pertanyaannya, Anda memilih presiden sesuai kehendak Anda atau sesuai kehendak rakyat? Jikalau sesuai kehendak Anda, maka Anda bikin saja NEgara sendiri. Anda tunjuk presiden sendiri. Jikalau sesuai kehendak rakyat, maka setelah selesai pemilihan, maka siapa saja yang terpilih harus diterima dengan baik dan legowo. Loyalitas Anda kepada Negara, bukan kepada Sosok. Ingat, bukan kepada sosok. Jikalau ini dipahami dengan baik, maka tidak akan ada lagi kekacauan.

Nah, itu dua contoh Non fiksi yang berdasarkan fiksi. Kenyataannya begitu. Loyalitas kepada sebagai bangsa INdonesia ga jelas. Kita mengaku sebagai warga NEgara Indonesia. Namun kadangkala kita rela mengorbankan kepentingan bangsa demi kepentingan kelompok. Jikalau sekadar mengaku-ngaju saja sebagai sosok yang paling Nasionalis, semuanya bisa. Tapi realitas yang berbicara. Buktikan itu.

Kata penyair:
Semua mengaku mencintai Laila. Namun Laila Tidak Merasakannya.

Artinya, semua mengaku sebagai Nasionalis, Pancasialis, padahal Negara justru merasa sebaliknya dari yang mengaku-ngaku tadi.

[Pakih Sati]


TAGS umum opini


-

Search