Mengaku Paling Pancasila, Mana Buktinya?

2 Jun 2017

Salah satu fenomena yang kita dapati di saat sekarang ini adalah klaim dan pengakuan diri paling Pancasila, kemudian menunjuk dan menuduh pihak lainya yang berseberangan sebagai pihak yang Anti Pancasila, Anti NKRI. Dan lucunya lagi, aksi saling klaim ini kebanyakan hanya kita dapatkan di dunia maya. Kalau di dunia nyata, biasa-biasa saja. Seakan-akan di zaman sekarang ini, hawa Dunia Maya lebih panas dari hawa Dunia Nyata. Suka tidak suka, senang tidak senang, begitulah nyatanya yang kita dapati.

Ini mengingatkan saya dengan kisah Majnun Laila, yang dalam sebuah syair kisahnya berbunyi:
“Semua mengaku mencintai Laila, namun Laila tidak merasakannya.”

Dalam konteks keindonesian, kita bisa menyatakan:
“Semua mengaku paling Pancasila, namun Pancasila tidak mengakuinya.”

Bagaimana tidak?
Kelompok A yang banyak anggota tersangka korupsi mengaku paling pancasila. Kelompok B yang anggotanya anarkis ga jelas mengaku paling Pencasila. Kelompok C yang kerjanya palakin para pedagang di pasar mengaku paling pancasila. Kelompok D yang kerja maling uang rakyat juga mengaku paling Pancasila. Begitu juga dengan kelompok-kelompok lainnya. Semua mengaku paling pancasila. Padahal, Pancasila ia hinakan.

Kalau mengaku Paling Pancasila, ukurlah dengan sila-sila yang ada. Utamanya, sila pertama.
Kenapa?
Sebab, sila pertama adalah pangkalnya. 4 sila lainnya, dalam pandangan saya, adalah derivasinya. Jikalau sila pertama sudah terwujud di dalam diri, maka empat sila yang lainnya dengan sendirinya juga akan mengejawantah di dalam diri. Dan sila pertama itu adalah masalah beragama, bertuhan. Jikalau Tuhan sudah ada di dalam diri, maka tidak ada lagi yang namanya korupsi. Jikalau Tuhan sudah ada di dalam diri, maka tidak ada lagi yang namanya fitnah adu domba. Jikalau Tuhan sudah ada di dalam diri, maka Indonesia ini akan jaya.

Maka, sudah Anda beragama dengan baik?
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang Religius, bermoral. Berpancasila berarti memiliki dan menjalankan nilai-nilai agama. Dan itulah yang mewujudkan moral dalam berbangsa, mewujudkan persatuan, dan nilai-nilai positif lainnya.

Maka, tanyalah diri Anda sekali lagi; Sudah benarkah saya in Pancasila?
Jangan ngaku-ngaku saja.

Tabik
Pakih Sati


TAGS umum


#Komentar Non Aktif Sementara. Mohon Maaf
-

Search