Pembongkaran Kuburan Nabi Saw Dalam Catatan Sejarah

21 Jun 2017

Mari kita melihat sejarah tentang beberapa upaya untuk membongkar kuburan Rasulullah Saw, dan tidak ada satu pun yang berhasil melakukannya.  Syeikh Muhammad Shalih al-Munjid memberikan penjelasan menarik mengenai masalah ini.

Pertama, orang yang pertama kali mencoba untuk membongkar kuburan Nabi Saw adalah pemimpin dinasti al-Ubaidiyah, yaitu Manshur bin Nizar bin Maad al-Mishry al-Ismaily. Dinasti Ubaidiyah adalah dinasti yang berdasarkan pemahaman syiah itsna asyar, itulah sebabnya mengapa ia memerintahkan orang-orang yang hidup pada zaman itu untuk melaknat para sahabat.

Beberapa orang pejabatnya menggodanya agar memindahkan kuburan Rasulullah Saw ke Mesir karena begitu banyaknya orang yang berziarah ke Medinah untuk menziarahi kuburannya dan kuburan dua orang sahabatnya. Dengan memindahkannya, berarti akan banyak orang yang datang dan berkunjung ke Mesir. Para pejabat tersebut mengemukaka pendapat-pendapat lainnya yang membuat Manshur tertarik untuk melakukannya.

Akhirnya, ia pun setuju untuk melakukannya dan menyiapkan dana yang cukup besar. Ia mengutus Abu al-Futuh untuk menggalikan kuburan tersebut. Ketika ia sampai di MAdinah, sekelompok penduduk Madinah yang sudah mengetahui tujua kedatangnya menghampirinya. Di antara mereka ada seorang qari yang bernama az-Zalbany. Dalam majelis tersebut, ia membacakan surat at-Taubah [9]: 21-13.

Setelah mendengar ayat tersebut, orang-orang yang hadir disana marah dan ingin membunuh Abu al-Futuh dan bala tentaranya. Ia segera melakukan tindakan pembelaan diri, seraya mengatakan: “Allah SWT lebih berhak untuk ditakuti. Jikalau saya memiliki kekuatan,  saya tidak akan berani melakukan perbuatan ini (menggali kuburan Rasulullah).”

Dalam keadaan yang tidak menyenangkan itu, ia berusaha mendapatkan jalan keluar, namun tidak kunjung dapat. Setelah siang berlalu, Allah SWT mengirimkan pasukannya berupa angin yang mendorong pasukan unta Abu al-Futuh dan pasukan berkudanya. Angin kuat ini mampu membuat mereka berguling-guling di tanah layaknya bola. Dengan begitu, ia gagal menjalankan misinya.

Kedua, ini juga dilakukan oleh pemimpin Dinasti al-Ubaidy. Setelah gagal, ia kembali melakukannya untuk kedua kalinya. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Sa’dun al-Qayrawany bahwa ketika itu diustulah seseorang yang akan menggali kuburan Rasulullah Saw. Orang tersebut masuk ke rumah yang dekat dengan mesjid Nabawi. Kemudian ia menggali lubang di bawahnya agar sampai ke kuburan Nabi Saw. Namun, orang-orang melihat cahaya, kemudian ada suara terdengar: “Nabi kalian akan dicuri.” Kemudian orang-orang mencari pelakunya dan mendapati, kemudian membunuhnya.

Ketiga, peristiwa ketiga terjadi pada masa pemerintahan Nur ad-Din az-Zanky pada tahun 557 H, dan yang melakukannya adalah orang-orang Nashrany. Dalam riwayat dijelaskan bahwa suatu malam, Nur ad-Din az-Zanky bermimpi bertemu dengan Rasulullah Saw. Ketika itu, beliau menunjukkan dua orang laki-laki seraya berkata, “Selamatkan saya.” Ketika terbangun, ia berwudhu, shalat, dan tidur lagi. Namun, mimpi itu kembali menghampirinya sebanyak tiga kali.
Esok paginya, ia memanggil menterinya untuk menceritakan mimpinya, yang bernama Jamal ad-Din al-Mushily. Setelah mendengar ceritanya, maka Jamal ad-Din mengusulkannya untuk berangkat menuju Madinah dan tidak menceritakan mimpinya kepada siapapun.

Singkat cerita, di Madinah ia mengumpulkan semua penduduk Madinah dengan alasan untuk bersilaturrahim. Dengan memperhatikan wajah mereka satu per satu, ia belum mendapati dua orang laki-laki yang dilihatnya dalam mimpinya. Sampai, masyarakat menunjukkan dua laki-laki yang bukan penduduk asli, yang tidak hadir pada saat itu. Keduanya berasal dari negeri Maghrib.

Ketika melihat keduanya, ia mendapati keduanya mirip dengan apa yang disaksikannya dalam mimpinya. Kemudian ia memeriksa rumah keduanya dan mendapati hakikat sebenarnya, di mana mereka ingin menggali kuburan Rasulullah Saw. Akhirnya, keduanya dihukum pancung.

Keempat, usaha keempat dilakukan oleh beberapa orang Nashrani dari negeri Syam. Mereka pada waktu itu ibarat pasukan perang yang sengaja berangkat ke Madinah dan melakukan berbagai tindakan kriminal dalam perjalanan yang mereka tempuh terhadap orang-orang yang akan menunaikan haji, baik berupa pembunuhan dan membakar kenderaan.

Sampai muncul seorang pejabat yang dikenal dengan Lukluk. Ia berhasil menaklukkan mereka dan menghalangi tujuan yang akan meraka lakukan. Padahal, waktu itu jarak mereka dengan Madinah hanya tinggal satu hari perjalanan lagi. Namun, begitulah Allah SWT menjaga rasul-NYa.

Tabik
Pakih Sati


TAGS umum


#Komentar Non Aktif Sementara. Mohon Maaf
-

Search