ISIS dan Syiah Houthi, Hanyalah Daur Ulang Masa Lalu

22 Jun 2017

Semenjak zaman baheula, Timur Tengah memang tidak bisa dipisahkan dari gerakan-gerakan yang bercokol disana. Dan memang tidak dapat dipungkiri, kadangkala kondisi dan posisi geografi mempengaruhi gaya dan tabiat rakyatnya, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ilmuwan muslim, seperti Ibn Khaldun dalam mukadimahnya dan Syahrastani dalan al-Milal wan an-Nihalnya.

Bagi saya, kedua gerakan ini sama-sama radikalnya. Pemikiran yang ada dalam gerakan mereka itu, memang mendorong mereka untuk melakukan gerakan kekerasan dan membentuk Negara tersendiri, kemudian menyingkirkan orang-orang yang berbeda dengan mereka.

Hanya saja, perlu diingat bahwa idelogi yang berada di balik aksi ISIS dan syiah Houthi tidak bisa disamakan. Walaupun keduanya sama-sama mengklaim bagian dari Islam, namun mereka tidak akan pernah mau disatukan dalam satu barisan. Dan jikalau ada yang mengusulkan agar mereka membentu satu Negara saja, dimana semua pengikutnya berada dalam Negara tersebut, maka saya yakin keduanya tidak akan pernah mau dan akur selamanya.

ISIS dan Houthi hanyalah daur ulang dari sejarah radikalisme masa lalu, yaitu sejarah yang sudah bermula dari zaman kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, tepatnya ketika terjadinya peristiwa tahkim (perdamaian) antara kelompok Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah radhiyallahu anhuma. Pada saat itu, dari kalangan pengukung Ali bin Abi Thalib, muncullah dua kelompok besar, yaitu Syiah dan Khawarij. Nah, ISIS adalah derivasi dari Khawarij, dan Houthi adalah derivasi dari Syiah.

Khawarij sendiri bisa dibilang gerakan yang paling keras membela kelompoknya dan sangat keukeuh membela apa yang mereka yakin. Mereka dengan tegas menyatakan berlepas diri dan menolak khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, dan semua khalifah yang ada dalam Daulah Umawiyah. Mereka berkeyakinan bahwa khalifah harus dipilih dari kalangan Ahli Bait dan harus dibaiat oleh seluruh kaum muslimin, kemudian setiap kesalahan yang dilakukan oleh khalifah harus dipermasalah, walaupun itu kesalahan kecil. Dan jikalau keadaan sudah damai, maka umat Islam tidak lagi membutuhkan pemimpin. Semuanya bisa berjalan tanpa perlu kepemimpinan.

Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu pernah secara terang-terangan menyakan kepada mereka tentang sikapnya, “Kami tidak akan menghalangi kalian mendatangi mesjid-mesjid Allah SWT, tidak menghalangi kalian dari fai’ (harta perang) yang kalian dapatkan, dan kami tidak akan memerangi kalian sampai kalian memerangi kami.” (Hr al-Baihaqi dan Ibn Abi Syaibah)

Itulah sebabnya mengapa dalam sejarah mereka tidak boleh diperangi, sampai mereka sendiri yang memerangi kaum muslimin lainnya yang tidak berada dalam golongan mereka. Salah satu aksi menumpas mereka terjadi pada khalifah Ali bin Abi Thalib juga, yaitu ketika mereka membunuh Abdullah bin Khabab bin al-Arts dan membelah perut budak perempuannya. Ali bin Thalib bertanya kepada mereka tentang siapa yang melakukannya, namun mereka enggan dan tidak mau menunjukkan siapa pelaku sebenarnya. Bahkan, semua bersepakat untuk menyatakan bahwa mereka semualah pelakunya. Kemudian, khalifah Ali bin Abi Thalib pun tindakan tegas untuk memberantas mereka dengan terhadi perang an-Nahrawan.
ISIS sendiri –saya tidak sedang menghakimi- berdasarkan uraian beberapa ulama dalam artikel-artikel mereka memiliki kesamaan dengan fikrah (pemikiran) yang diusung Khawarij ini. Walaupun tidak keseluruhan, namun ada beberapa titik temu dalam pemikiran mereka yang mirip dengan Khawarij. Dan saya tidak ragu bahwa orang-orang yang berada di sana adalah orang-orang yang ikhlas berjuang demi Islam, namun semangat yang tidak dibarengi ilmu dan bimbingan ulama, kadang-kadang bisa menyebabkan salah arah.

Kemudian, untuk Syiah sendiri, mereka agak berbeda dengan Khawarij. Mereka memiliki banyak pecahan dan kelompok. Dan Houthi ini pada awalnya adalah bagian dari Syiah Zaidiyyah, yaitu sebuah kelompok Syiah yang berada di Yaman dan dinilai paling dekat ajarannya dan pengamalannya dengan kelompok sunni (ahli sunnah wal jamaah). Hanya saja, seiring perjalanan waktu, kelompok Houthi ini mengalami pergeseran nilai dan berubah menjadi kelompok radikal, dan semakin jauh-jauh dari fikrah yang ada dalam mazhab zaidiyah.

Nama Houthi sendiri Badr al-Din bin Amir al-Din al-Houthi, salah seorang penggagas gerakan asy-Syabab al-Mukmin di Yaman pada tahun 1991. Gerakan ini adalah gerakan keilmuan untuk menyatukan pada ulama Mazhab Zaidiyyah yang berada di Yaman. Hanya, pemikiran yang ada pada diri al-Houthi sudah banyak yang melenceng dari pemikiran para ulama Zaidiyah, dimana ia suka melaknat Abu Bakar dan Umar bin al-Khattab, menyerang keshahihan shahihain dan kitab-kitab sunan dalam berbagai karangannya, menyatakan Bukhari dan Muslim sebagai pendusta dan pembohong agar bisa dekat dengan para penguasa. Pemikiran itu disebarkannya, dan diteruskan oleh anaknya yang bernama Husain bin Badar al-Din al-Houthi.

Gerakan asy-Syabab al-Mukmin menjadi naungan pertamanya kehilangan arah, sehingga para penggagasnya banyak yang keluar karena tidak sesuai lagi dengan pemikiran yang ada disana, seperti Muhammad bin Salim Azan, yaitu salah seorang pemikiran mazhab Zaidiyah yang terkenal moderat. Dengan begitu, gerakan asy-Syabab al-Mukmin total dijalan olah Badar al-Din dan anak-anaknya, mereka berusaha memperluas gerakannya. Masalah peliknya, gerikan ini juga pada awalnya mendapatkan bantuan materi dari pemerintah Yaman.

Akhirnya, jelaslah bahwa yang terjadi itu hanyalah daur ulang dari pemikiran lama dengan bentuk yang berbeda. Pemikiran tetaplah pemikiran, dimana jikalau ia hanya berada dalam kepala, maka itu bukanlah sebuah masalah. Namun, jikalau sudah diterapkan dan diejawantahkan, kemudian mengancam keamanan dan mengganggu orang lain, maka disitulah munculnya masalah. Intinya, pangkal semua masalah ini adalah ilmu. Jikalau tidak ada ilmu, maka sikap radikalisme itu akan mudah merasuk dalam diri para pecinta kebenaran, apalagi jikalau semangat itu sedang membara-baranya.

Tabik
Pakih Sati


TAGS umum


#Komentar Non Aktif Sementara. Mohon Maaf
-

Search