Duet Prabowo-AHY, Mampukah Tumbangkan Kuasa Jokowi di Pilpres 2019?

4 Aug 2017

Beberapa hari yang lalu, kita sempat disuguhkan manuver-manuver politik menarik, dengan berkunjungnya Prabowo Subianto ke kediaman SBY. Dua tokoh arus utama di perpolitikan Indonesia saat ini. Prabowo Subianto adalah presentasi dari Partai Gerindra, kemudian SBY adalah presentasi dari Partai Demokrat. Dua partai besar yang memiliki kekuatan dan pengaruh besar dalam perpolitikan negeri kita saat ini.

Mau tidak mau, suka tidak suka, pertemuan kedua tokoh ini akan mengarak opini massa pada suatu kesimpulan, yaitu Akankah Keduanya Berduet di Pilpres 2019 nanti? Jikalau iya, mampukah duet keduanya menumbangkan kuasa Jokowi? Bagaimanapun, Jokowi adalah Incumbent, kemudian sejumlah partai sudah nyata-nyata menyatakan dukungannya kepadanya, seperti Golkar, Nasdem, Hanura, PKB, PPP,  dan lainnya, kemudian terakhir yang sempat menghebohkan dunia politik adalah dukungan Hary Tanoe dengan partai Perindonya untuk Jokowi di 2019 nanti. Padahal, selama ini HT mengambil posisi oposisi pemerintah bersama dengan Prabowo Subianto.

Gerindra tentu akan mengajukan Prabowo sebagai Capres, dan kemungkinan untuk wakilnya (jikalau ada deal-deal dengan partai Demokrat) adalah AHY. Jikalau keduanya benar-benar berduet, apakah pemilu nanti mampu dimenangkan?
Terlebih dahulu, mari kita lihat hasil survei mengenai elektabilitas Prabowo dan Jokowi, yang dimuat oleh detik (dot) com. Saya kutip disini…

Survei Indo Barometer (dirilis 7 April 2015)

Joko Widodo: 45,8%
Prabowo Subianto: 30%

Survei dilakukan pada 15-25 Maret 2015 dengan 1.200 responden. Responden survei ini dipilih dengan metode multistage random sampling dan margin of error sebesar ± 3,0%

Survei CSIS (dirilis 25 Oktober 2015)

Joko Widodo: 36,1%
Prabowo Subianto: 28%

Survei ini dilakukan secara acak terhadap 1.183 orang secara proporsional di 34 provinsi. Penarikan sampel dilakukan secara multistage random sampling dengan margin of error sekitar 2,85 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Survei ini dilakukan pada 14-21 Oktober 2015 melalui wawancara tatap muka.

Survei Populi (dirilis 26 Oktober 2015)

Joko Widodo: 36,6%
Prabowo Subianto: 24,3%

Survei dilakukan dengan metode wawancara tatap muka di 34 provinsi di Indonesia pada 15-22 Oktober 2015. Besaran sampel adalah 1.200 responden, dipilih secara acak bertingkat (multistage random sampling). Margin of error survei ini sekitar 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%.

Survei SMRC (dirilis 24 Juli 2016)

Joko Widodo: 32,4%
Prabowo Subianto: 9,4%

Survei ini digelar pada 22-28 Juni 2016 di 34 provinsi, dengan teknik wawancara tatap muka terhadap responden sebanyak 1.027 warga yang punya hak pilih. Margin of error rata-rata 3,1% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Survei Indo Barometer (dirilis 22 Maret 2017)

Joko Widodo: 50,2%
Prabowo Subianto: 28,8%

Survei nasional Indo Barometer ini dilaksanakan di 34 provinsi pada 4-14 Maret 2017. Dengan jumlah responden 1.200 orang, margin of error pada survei tersebut kurang-lebih 3,0%.

Survei SMRC (dirilis 8 Juni 2017)

Joko Widodo: 53,7%
Prabowo Subianto: 37,2%

Survei dilakukan dengan metode multistage random sampling mengambil 1.500 responden sebagai sampel. Survei dilakukan pada WNI yang berumur 17 tahun atau lebih. Margin of error penelitian tersebut plus-minus 2,5 persen. Sedangkan tingkat kepercayaannya 95 persen. Responden dipilih lewat wawancara tatap muka oleh pewawancara yang dilatih. Periode wawancara dilakukan pada 14-20 Mei 2017.

Dengan survei di atas, walaupun JOkowi masih unggul di atas Prabowo, namun dengan nanti masuknya AHY (jikalau itu terjadi), maka kuasa JOkowi bisa saja ditumbangkan. Suara dari AHY otomatis akan menambah pundi-pundi suara Prabowo. Nama besar SBY tidak bisa diremehkan dalam jagad politik Indonesia, yang mampu meminpin Indonesia selama 2 periode.

Apalagi dinamika politik ke depannya, bisa saja semakin memanas. Roda politik akan terus berputar. Bahkan tidak mustahil, di balik dua nama besar yang muncul saat ini, yaitu Prabowo dan Jokowi, bisa saja muncul nama lainnya dengan elektabiltas tinggi karena mendapatkan momennnya, seperti nama Panglima TNI saat ini yang memang lagi Naik Daun.

2019 itu tidak lama bagi para politikus… Tidak lama… Semuanya bermain, dan harus bermain dengan cantik. Tapi yang harus diwaspadai adalah politikus kutu loncat. Bagi saya, politikus macam ini, buang saja ke “got.” Tidak usah dipilih. ORang seperti ini hanya berpikir keuntungan saja. Yakin sama saya. Mereka adalah kaum politikus yang tidak memiliki idealisme. Buang saja.

Tabik
Pakih Sati


TAGS umum


Sahabat Sekalian... Komentar Non Aktif Sementara... Mohon Maaf... Jikalau Ada yang Perlu atau Penting Dikomentari, Silahkan email ke: denisarifandips@gmail.com atau WA: 081382088702. Hanya WA Saja ya...
-

Search