Akhirnya, H. Lulung pun Memuji Kinerja Ahok, Apa Tujuannya?

5 Aug 2017

Ahok dan Lulung, beberapa bulan yang lalu, kita kenal sebagai dua sosok yang selalu berseberangan. Lulung dikenal sebagai sosok yang gencar memberikan serangan terhadap Ahok dan kebijakan-kebijakannya. Bahkan, ia sampai harus berseberangan dengan partai yang menjadi kenderaannya dalam berpolitik; PPP karena tidak mau mengikuti langkah yang diambil partainya dalam mendukung Ahok.

Itu adalah cerita lama… Ahok sudah mendapatkan hukumannya, karena bermasalah dengan kasus penodaan Agama. Ia harus turun dari singgasananya sebagai Gubenur DKI Jakarta dan digantikan oleh wakilnya Djarot Saiful Hidayat. Sedangkan Lulung sendiri, tetap menjalankan kewajibannya sebagai Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, walaupun punya masalah dengan partainya.

Bukan itu yang menjadi sorotan saya. Namun, pernyataannya di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (2/8/2017), mengenai masalah trotoar. Saat ini, Pemprov DKI memang tengah menggerakkan Bulan Tertib Trotoar. Lulung menjelaskan bahwa untuk mengatasi masalah trotoar, hendaklah Pemerintah Provinsi setempat memberdayakan Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW).
Kenapa?
Karena banyak pengurus RW justru memanfaatkan lahan trotoar untuk disewakan pedagang. Sehingga, pedagang dengan mudah menggunakan trotoar tersebut. Baginya, trotoar dibangun menggunakan uang rakyat. Oleh karena itu, rakyat juga sudah seharusnya turut menjaga.

Kemudian, Lulung memuji kinerja Ahok selama memimpin DKI:
“Kok enggak ada BTP (Basuki Tjahaja Purnama/Ahok) trotoarnya malah banyak dipakai pedagang.”
….

Apa makna yang tersirat dari Ucapan Lulung ini:
Pertama, Lulung mengakui kehebatan Kinerja Ahok, terutama dalam masalah trotoar ini selama kepemimpinannya
Kita selama ini paham, Lulung selalu mengkritik Kinerja Ahok. Tidak ada ceritanya selama ini, Lulung memuji Kineja Ahok. Dan pujian itu baru dikeluarkannya saat ini, ketika Ahok sudah memimpin lagi. Ibarat pepatah, nilai sesuatu baru terasa ketika hilang. Atau bisa jadi, yang selama ini yang dikiritik Lulung adalah mulut Ahok yang seringkali memang “tajam”, yang menyebabkan banyak orang tertusuk, baik kelas atas maupun kelas menengah dan bawah. Makanya, tajamnya lisan Ahok berujung dengan kasus penodaan agama. Dalam bahasa lainnya, Kinerjanya baik, Lisannya tidak. Mungkin begitu. Itu kemungkinan pertama.

Kedua, Lulung menyatakan itu sebenarnya bukan untuk memuji, namun untuk menohok kepemimpinan Gubenur DKI  Djarot Saiful Hidayat. Dalam artian, jikalau Ahok mampu menertibkannya, kenapa Anda tidak? Anda kan masih menjabat sebagai Gubenur DKi Jakarta. Itu masih tanggungjawab Anda. Begitu kira-kira bahasanya yang ingin disampaikan Lulung kepada Djarot.

Ketiga, Ini merupakan langkah politik Lulung untuk kembali lagi bermesraan dengan PPP. Karena PPP yang dipimpin Romahurmuzi maupun yang dipimpin Djan Fariz, keduanya mendukung Ahok dahulunya ketika pilkada DKI Jakarta. Dan Lulung waktu itu mengambil sikap berseberangan dengan kedua kubu PPP. MUngkin dengan sikapnya kali ini, ia ingin menunjukkan sikapnya untuk bermesra lagi dengan para pemimpin teras PPP. Itu kemungkinan ketiganya.

Nah, itulah kira-kira kemungkinan makna dari pujian Lulung terhadap Ahok. Kita harus paham, ini adalah dunia politik. Kata orang, tidak ada teman yang abadi, dan tidak ada musuh yang abadi. Justru, yang ada adalah kepentingan abadi. Jikalau kepentingan ada, bersama. Jikalau tidak, ya pisah. Bahkan, bisa saja saring serang.

Politil… Oh politik…

Tabik
Pakih Sati


TAGS umum


Sahabat Sekalian... Komentar Non Aktif Sementara... Mohon Maaf... Jikalau Ada yang Perlu atau Penting Dikomentari, Silahkan email ke: denisarifandips@gmail.com atau WA: 081382088702. Hanya WA Saja ya...
-

Search