Dituduh Curi Amplifier, Dimassa & Dibakar, Adakah Hukum Di Negara Ini?

10 Aug 2017

Tidak bisa dibenarkan. Itulah yang bisa kita ungkapkan berkaitan dengan kasus kasus pengeroyokan dan pembakaran Alzahra alias Zoya yang dituduh sebagai maling amplifier di Mushola Al-Hidayah, Babelan Bekasi. Main hukum sendiri itu, tidak ada baiknya sama sekali. Ini negara hukum, bukan hutan. Ada hukum yang harus ditegakkan, dan ada para penegak hukumnya. Kalaupun memang terbukti mencuri, tidak ada hak massa untuk menghakimi. Apalagi sampai menyebabkan hilangnya nyawa. Nyawa itu jauh lebih mahal dari amplifier yang dicuri. Jauh lebih mahal. Bahkan, Kata Nabi Muhammad, Nyawa seorang anak manusia, jauh lebih mulia dari kabah.

Bayangkan…

Alhamdulillah, kita sudah mendapatkan kabar gembira dari Kapolres Metro Kabupaten Bekasi Kombes Asep Adi Saputra yang menyatakan bahwa polisi telah menetapkan tiga tersangka baru. Tiga tersangka itu adalah AR, KR dan SD. Dari tiga orang lain, yang paling punay peranan besar adalah SD. Sebab, orang inilah yang membeli bensin, menyiramkannya ke tubuh kobran sekaligus pelaku yang membakarnya. Sebelumnya sudah ada yang ditangkap juga. Berarti, jumlah pelaku yang diamankan ada 5 orang. Peranan yang mereka lakukan memang berbeda-beda. SU (40) berperan memukul punggung dan perut Joya. NA (39) memukul bagian perut Joya. AL (18) berperan menginjak-injak kepala Joya. Sedangkan KR (55) berperan memukuli perut dan punggung korban.

Ini belum selesai. Sebagaimana dijelaskan oleh Kapolres Metro Kabupaten Bekasi Kombes Asep Adi Saputra, masih ada sejumlah pelaku lainnya yang masih dikejar, sesuai dengan pengembangan kasus dan keterangan dari para pelaku yang sudah diamankan. Mereka dikenakan pasal 170 KUHP yakni melakukan tindakan bersama pada kekerasan bersama. Ancaman hukumannya adalah 12 tahun penjara.

Kalau Seandainya Tidak Didapati Otak Kasus ini, Maka Hukum Semua Massa yang Terlibat Harus Dihukum

Alhamdulillah… otak kasus keji ini sudah didapatkan beberapa di antaranya dan akan terus dikembangkan. Jikalau seandainya tidak didapatkan, maka seharusnya semua yang terlibat, sekecil apapun perannya, maka harus mendapatkan hukuman. Ada kisah menarik yang pernah terjadi dahulu di ibukota Yaman, Shan’a. Ada pasangan suami istri yang tinggal bersama seorang anaknya. Anaknya ini bukanlah anak kandung dari istrinya, anak tiri. Bisa jadi anak kandung dari istrinya yang sebelumnya atau istrinya yang lainnya.

Suatu kali, laki-laki ini melakukan perjalanan jauh dan meninggalkan sang istri bersama anak tirinya. Ternyata, istrinya ini bukanlah wanita baik-baik. Suaminya bersafar, ia malah berselingkuh. Si Istri berkata kepada laki-laki selingkuhannya itu:
“Bunuhlah anak kecil ini. Kalau tidak, ia akan membocorkan perselingkuhan kita.”
Selingkuhannya itu tidak mau. Dan perempuan itu pun tidak mau disentuh laki-laki seingkuhannya, sampai ia melakukan apa yang dimintanya.

Namanya syahwat… jikalau sudah bersarang di kepala, maka akal akan tertutupi. Laki-laki selingkuhannya tadi mau menjalankan permintaan dari perempuan tadi, dengan dibantu oleh temannya. Kemudian si perempuan itu sendiri juga ikut serta bersama pembantunya. Mereka membunuh anak kecil tadi, memutilasinya, kemudian membuang jasadnya di tempat pembuangan sampah.

Kejahatan tidak ada yang sempurna. Kasus inipun diketahui oleh massa dan diangkat ke ranah publik. Ya’la adalah Gubernur Shan’a ketika itu. Menghadapi kasus ini, ia agak bingung. Sebab, pelakunya banyak. Jikalau sendiri, baginya hukumnya sudah jelas. Nyawa berbalas nyawa. Ini banyak. Massa. Maka, ia mengirim surat kepada Khalifah Umar bin al-KHattab, dan Umar menjawab:

“Demi Allah jika seluruh penduduk Shan’a bersekutu membunuh bocah kecil tersebut, niscaya sungguh akan aku bunuh mereka semua karenanya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

Jangan Terbiasa Main Hakim Sendiri

Ini penyakit… Seharusnya massa jangan suka main hakim sendiri. Jikalau melihat kejahatan, adukan masalahnya ke kantor kepolisian terdekat. Jangan main hakim sendiri. Hukum itu ada, dan tidak boleh diabaikan. Jikalau kita tidak percaya dengan penegak hukum, maka kepada siapa lagi kita akan percaya?!
Dan perlu juga dicatat bagi para penegak hukum, adanya hukuman massa ini, bisa jadi berkaitan dengan hilangnya kepercayaan publik kepada para penegak hukum. Nah, ini yang harus menjadi catatan.

Massa itu kalau menghukum, tidak pandang aturan. Manusia kalau lagi emosi, susah dikendalikan. Kadang cuman maling ayam, namun karena di-massa, harga berobatnya lebih mahal dari ayamnya. Intinya, massa jangan main hakim sendiri. Dan penegak hukum juga harus intropeksi diri agar bisa mendapatkan kepercayaan lebih baik dari masyarakat.

Tabik
Pakih Sati


TAGS umum


Sahabat Sekalian... Komentar Non Aktif Sementara... Mohon Maaf... Jikalau Ada yang Perlu atau Penting Dikomentari, Silahkan email ke: denisarifandips@gmail.com atau WA: 081382088702. Hanya WA Saja ya...
-

Search