Merdeka itu Semu Jikalau Koruptor Merajalela, Hutang Negara Bertambah

17 Aug 2017

Merdeka… Merdeka… Merdeka…

Usia Bangsa Indonesia sudah memasuki 72 Tahun. Usia yang tidak muda lagi. Usia matang. Di usia ini, seharusnya kita sudah bisa tegak di kaki sendiri, menjadi teladan bagi bangsa-bangsa yang masih muda, bangsa-bangsa yang baru saja Merdeka. Seharusnya, kita sudah menjadi bangsa yang memiliki pendanaan yang besar dan ekonomi yang kuat sehingga bisa memberikan bantuan dan pinjaman kepada yang lainnya. Dan itu tidak mustahil. Sebab, negara kita memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Jikalau diolah dengan baik, tidak ada ceritanya ada orang miskin dan kelaparan di Indonesia ini.

Nyatanya… Indonesia kadangkala bagaikan ayam di atas padi mati kelaparan, itik di air mati kehausan. Sumber Daya kita besar, namun karena tidak diolah dengan baik dari masa ke masa, akhirnya semuanya tergadai. Kita hanya mendapatkan recehannya saja. Bagian terbesarnya justru didapatkan oleh perusahaan-perusahaan yang dimiliki asing, yang otomatis uangnya masuk ke kantong negara-negara asing itu.
Siapa yang sejahtera?
Ya, negara penduduk negara lainnya. Penduduk negara sendiri, ya seperti-seperti itu saja. Ada yang hidup di dekat perusahaan besar, namun hidupnya melarat menyedihkan.

Dan parahnya lagi, kita menjadi Negara yang besar nilai pinjamannya ke negara yang sumber dananya juga dari sumber daya alam kita. Sampai saat ini, hutang Negara kita sudah mencapai jumlah Rp 3.667 triliun per 30 April 2017. Setiap anak bangsa yang baru lahir, sudah harus memikul hutang di pundaknya. Tapi apa mau dikata, ini negara kita dan ini bangsa kita. Tidak mungkin kita menjauh meninggalkan negara kita hanya gara-gara hutang ini. Justru, kita sebagai anak bangsa harus maju memberikan solusi menyelesaikan masalah ini.

Di sisi lainnya, jumlah koruptor di kalangan anak negeri yang memegang jabatan di negeri ini masih saja merajalela. Mereka seolah-olah punya kuasa dan tidak bisa disentuh tangan hukum. Mereka entah sadar atau tidak, menjadi perpanjangan tangan para “penjajah” mencekik rakyat bangsanya sendiri. Entah bagaimana mereka bisa berbahagia dengan harta-harta itu di tengah derita rakyat yang kelaparan dan menderita. Nurani sudah mati dan akal sudah tidak berfungsi karena ditutupi syahwat korupsi.

Dua ini virus berbahaya yang menggerogoti negeri, sehingga kemerdekaan kita yang seharusnya nyata dan hakiki, hanya menjadi sesuatu yang semu dan penuh bayangan. Penyakit yang berasal dari Eksternal, berupa hutang dari Negara-Negara lainnya yang sebenarnya uangnya dari Sumber daya alam kita sendiri. Kemudian penyakit Internal, yaitu para pejabat bermental koruptor yang uang rakyatnya dimakan sendiri.

Perjuangan masih panjang. Badan kita sudah merdeka, Mental kita belum… Makanya, kemerdekaan kita masih SEMU… Tapi bagaimanapun, kita tetap harus mensyukurinya. Jikalau kita masih punya hutang, kita tidak akan mampu berbuat banyak dan tidak akan mampu berkontribusi besar bagi dunia. Karena orang yang banyak hutangnya, akan berada di bawah kontrol pemberi hutang. Dan jikalau para koruptor masih merajalela, uang yang seharusnya diberikan untuk rakyat akan terus habis di tangan mereka. Begitulah nyatanya… kita tidak boleh menutup mata.

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati


TAGS opini


Terimakasih Atas Kunjungan Anda. Salam Kenal. Salam Bersahabat
-

Search