Antara Haji Mabrur dan Haji Maghrur yang Menjadi Biang Koruptor

24 Aug 2017

Ibadah haji bukanlah ibadah yang murah. Ada harta dalam jumlah banyak yang harus dikeluarkan. Ada tenaga besar yang harus dikerahkan. Dan ada korban perasaan yang harus dirasakan. Jikalau ibadah ini sia-sia, dengan tidak memperoleh kemabrurannya, rasanya sungguh sangat disayangkan.
Banyak keutamaan yang didapatkan oleh haji mabrur, di antaranya adalah diampunkan dosa-dosanya dan akan kembali layaknya anak kecil yang baru dilahirkan ibunya (Hr Muslim).
Pada hari lainnya, Rasulullah Saw ditanya tentang amalan yang paling baik. Beliau menjawab bahwa amalan yang paling baik itu Iman kepada Allah SWT dan Rasulnya. Kemudian jihad di jalan Allah SWT dan haji mabrur (Hr. Muslim)

Ketika seseorang kembali dari haji, tanda utama apakah ibadah yang dilakukannya itu mabrur atau tidak adalah perubahan yang terjadi pada dirinya. Jikalau pasca kembali haji, keadaannya semakin baik, baik ibadah maupun perbuatan, maka itulah tanda kemabrurannya. Namun, jikalau yang terjadi sebaliknya, dimana setelah kembali haji perbuatan buruknya malah semakin menjadi-jadi, itu tandaya ibadah hajinya Maghrur alias tidak mabrur.  
Apa itu Haji Maghrur?
Itulah haji yang tertipu. Ia menunaikan haji hanya untuk mendapatkan gelar sosial aja. Jikalau ada acaranya, nama hajinya harus dipakai. Jikalau ada kampanye, gelar haji harus dipampang. Padahal, etika dan moral kehidupannya jauh dari haji tersebut. Kita berlindung kepada yang Maha Kuasa dari hal itu.

Jadikanlah ibadah haji itu sebagai moment perubahan diri menjadi sosok yang lebih baik. Jikalau sebelum menunaikan haji, masih sering meninggalkan ibadah, maka jadilah setelahnya sosok yang rajin beribadah. Jikalau sebelum menunaikan ibadah haji, masih suka melakukan korupsi, berbohong, dan sejenisnya, maka setelah menunaikannya, campakkanlah semua itu. Dan kebaikan akhlak pun harus ditampakkan. Jangan sampai ibadah yang dilakukan, hilang keberkahannya gara-gara akhlak yang tidak terjaga.

Jikalau orang saja bisa menilai baik atau tidaknya seseorang yang sudah menunai haji, ada atau tidaknya perubahan yang dilakukan, maka Allah SWT lebih mengetahui hakikat sebenarnya. Ibadah haji bukanlah sekadar untuk mendapatkan gelar “haji”nya atau menaikkan status social di tengah-tengah masyarakat. Lebih dari itu, ia adalah upaya untuk mengejawantahkan nilai-nilai keimanan dalam diri, baik ketika di hadapan khalayak maupun ketika menyendiri.

Tabik
Pakih Sati


TAGS umum


Terimakasih Atas Kunjungan Anda. Salam Kenal. Salam Bersahabat
-

Search