Ketika Maling Teriak Curi, Ketika Koruptor Teriak Korupsi

5 Sep 2017

Semakin hari, semakin kesini, kasus korupsi di Indonesia semakin menjadi-jadi saja. Berdasarkan catatan dari CNN Indonesia, sepanjang tahun 2016, terdapat 14.564 perkara yang masuk. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2015, yakni 13.977 perkara.  Artinya, tahun 2016 saja, terjadi peningkatan 1.000 perkara. Dan, jumlah itu belum termasuk sisa perkara tahun 2015 yang mencapai 3.950.

Tahun 2017?
Sudahlah… Silahkan bayangkan sendiri, di tengah gejolak politik bangsa yang panas-panas dingin sekarang ini. Semakin digelorakan anti korupsi, semakin menjadi-jadi perilaku para pencuri. Tapi, begitulah para pencuri. Semakin dibuatkan kuncinya agar harta tidak didekati, maka mereka juga berinovasi agar mampu membuka kunci tadi. Semakin canggih alat pencegah korupsi, para maling juga semakin berani.
Hedeh…

Apa masalah besar kita?
Masalah besar kita adalah bercokolnya para pejabat dan para elit di pemerintahan yang berjiwa dan berperilaku koruptor; berlagak alim di depan masyarakat, kemudian berubah menjadi setan di balik tabir; berlagak dermawan di depan fakir miskin, tapi berubah jadi drakula di kegelapan malan.  Mereka berteriak keras di hadapan publik: “Basmi korupsi… Basmi Korupsi.” Padahal, ia sendiri sudah mengorupsi ratusan juta bahkan milyaran uang negara. Mereka adalah kaum yang membuncitkan perut mereka dan mengendutkan rekening mereka, dengan bermandikan keringar derita rakyat jelata. Tidak ada lagi budaya malu. Semuanya sudah ditelan hawa nafsu. Makanya Nabi menjelaskan, jikalau kamu tidak malu, lakukan apapun yang kamu inginkan.

Kenapa?
Sebab, ia bukan manusia lagi. Orang yang sudah tercerabut rasa malunya, tidak layak dilebeli manusia. Sebab akalnya dan logikanya sudah hilang dan sirna. Mereka adalah manusia-manusia sampai yang hanya akan menyisakan bau busuk di tengah peradaban manusia. Mereka adalah bangkai-bangkai hidup yang berjalan layaknya zombie menyisap darah anak negeri.

Namun entah kenapa, masih saja ada anak negeri yang mau mempersembahkan suara mereka untuk para politikus tak bernurani ini. Setiap kali pemilu, suara para politikus busuk masih saja mampu menusuk tabir-tabir kebenaran yang sudah bentangkan di langit-langit kekuasaan. Dan itu artinya, anak negeri ini pun sudah banyak yang terkena virus korupsi, yang sengaj ditularkan para penghisap darah anak negeri. Dengan bekal amplop 50.000 sampai 100.000, kekuasaan bisa kembali diraih. Padahal, uang itu adalah uang rakyat jua, yang sengaja dibagikan lagi demi kembali mendapatkan kursi.

Mana akal kita… mana logika kita… mana nurani kita… Sudahkah tumpul karena tertutupi gelapnya awan korupsi?!

Salam
Denis Arifandi Pakih Sati 


TAGS umum


Sahabat Sekalian... Komentar Non Aktif Sementara... Mohon Maaf... Jikalau Ada yang Perlu atau Penting Dikomentari, Silahkan email ke: denisarifandips@gmail.com atau WA: 081382088702. Hanya WA Saja ya...
-

Search