Rintihan Derita Penulis yang Lebih Menderita dari Tere Liye

7 Sep 2017

Jikalau bercerita tentang derita penulis di Indonesia, agaknya kita akan tertawa geram. Di satu sisi pemerintah berharap pendidikan di Indonesia ini maju, namun di sisi lainnya pemerintah seolah-olah cuek dengan nasib penulis yang kehidupan mereka jauh lebih buruk dari tukang parkir. Percaya atau tidak, itulah kenyataannya yang sebenarnya terjadi.

Saya secara pribadi, juga memiliki beberapa buku yang terbit di penerbit-penerbit Mayor. Temanya Islam-Populer. Dan merasakan sekali apa yang dirasakan oleh Tere Liye, yang beritanya sedang hangat-hangatnya sekarang ini. Kita sudah menunggu Royalti selama 6 bulan. Hasilnya tidak seberapa. Kemudian parahnya, dipotong pajak 30% jikalau tidak punya NPWP, dan 15 % jikalau punya NPWP. Kadangkala, jumlah royalti yang kita dapatkan hanya bisa untuk beli pulsa. Serius… Hanya bisa untuk beli pulsa. Padahal, untuk menulis buku itu kita harus tunggang langgang, begadang semalam, dan bolak-balik perpustakaan.

Tere Liye masih untung. Beliau itu penulis Best Seller. Novelis terkenal. Bukunya saja yang terbit sudah 28 buah. Semuanya Best Seller. Udah ratusan juta, atau mungkin milyaran yang didapatkannya. Sekelas beliau, sudah merasakan deritanya pajak penulis di Indonesia. Apalagi sekelas saya, yang royaltinya hanya se-upil.

Jikalau pemerintah serius memperhatikan literasi, demi masa depan anak bangsa, maka perhatikanlah kesejahteraan para penulis. Paling tidak, tiadakan pajaknya. Sebab penulis itu memang ada dua jenis. Pertama, yang penulis murni, yang hidupnya hanya dari menulis. Bagi mereka, pajak itu mencekik sekali. Uang yang seharusnya bisa mensejahterakan keluarga, malah dikasihkan ke pemerintah. Kedua, yang penulis sambilan, yang menulis buku hanya sekadar hobi dan kontribusi. Bagi mereka, pajak seberapapun tidak masalah. Mereka kebanyakan sudah jadi dosen atau guru besar atau sudah ada pemasukan. Walaupun begitu, mereka tetap akan berharap pajak penulis itu dihilangkan, biar penghasilan penulis bisa jadi sambilan.

Akhirnya, semua kembali ke pemerintah. Jikalau ingin literasi maju, hapuskanlah pajak itu. Atau kurangi seminimal mungkin.

Salam dari penulis yang tidak terkenal…

Pakih Sati


TAGS umum


Terimakasih Atas Kunjungan Anda. Salam Kenal. Salam Bersahabat
-

Search