Apa Penyakit Akut Anak Bangsa yang Hina Ibu Negara?

13 Sep 2017

Mungkin sekarang ini hanya penyesalan yang bisa ditangisi oleh Dodik Ikhwanto (21 Tahun). Senin (12/9/2017), Satreskrim Polrestabes Bandung mendatangi anak muda yang masih berstatus sebagai mahasiswa ini untuk menangkapnya dan meminta pertanggungjawabannya atas kasus yang dibuatnya sendiri, dengan mengunggah postingan yang berisi hinaan kepada Iriana Jokowi lewat akun Instagramnya @warga_biasa. Sebagaimana dijelaskan oleh Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengatakan, Dodik nekat membuat postingan bernada hinaan kepada Iriana Jokowi lantaran tidak suka dengan pemerintahan yang dipimpin Presiden Joko Widodo. Alasan yang sederhana, namun melahirkan penyesalan tiada tara.
Seharusnya, dengan statusnya dengan mahasiswa, ia harus mengedepankan logika. Jikalau tidak suka dengan pemerintahan, itu sah-sah saja. Itu masalah rasa, masalah pilihan. Hanya saja, jikalau mengungkapkan ketidaksukaan itu dengan hinaan, itu baru menjadi permasalahan. Jikalau didapati sesuatu yang tidak sesuai dalam roda pemerintahan, layangkan kritikan. Sampaikan dengan data, dengan logika. Jangan dengan emosi dan amarah, yang malah menyerang Ibu Negara dengan sebutan pelacur yang menutupi aibnya dengan kerudung.
Itu tuduhan sadis. Pelacur adalah sematan yang tidak layak diberikan kepada wanita terhormat., wanita yang sudah berkeluarga, sudah memiliki anak dan cucu. Apalagi dengan statusnya sebagai Ibu Negara. Bahkan, para wanita yang berprofesi sebagai PSK saja, tidak akan rela jikalau ada yang memanggilnya sebagai pelacur.
Ibu Iriana itu adalah istri dari Presiden Indonesia; symbol Negara. Istrinya adalah bagian darinya. Menghina Ibu Negara, sama saja menghina Presiden. Dan, itu saja sama menghina Negara Indonesia.
Dan, anak bangsa manakah yang mau menghina Ibu Negaranya sendiri? Tidak ada.
Lantas, kenapa ini terjadi? Karena ada penyakit.
Apa penyakitnya?
Kebencian akut….
Benci dan Cinta adalah masalah rasa. Ia tidak akan pernah konstan dalam suatu keadaan. Bahkan, jikalau ia sudah konstan dalam suatu keadaan, maka ia akan berubah menjadi keadaan yang menakutkan. Itulah benci akut. Itulah cinta akut. Itulah benci buta. Itulah Cinta buta.
Keduanya tidak baik. Keduanya sama-sama membutakan logika. Benci yang buta, membuat seseorang memandang segala masalah dengan pandangan Negatif. Bahkan, kalau ada yang baik, tetap akan dicari celah buruknya. Sebaliknya, Cinta yang buta, membuat seseorang memandang masalah dengan pandangan positif. Sesalah apapun yang dilakukan oleh orang yang dicintainya, ia akan menemukan sejuta akan untuk membenarkannya. Maka, setiap anak bangsa harus selalu menghidupkan logikanya. Seburuk apapun arus massa, logika harus tetap menyala. Agar kita tidak kalap di tengah krisis berpikir.

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati

….

Baca Juga:

Iqamah Sudah Dikumandang, Padahal Ada yang Masih Shalat Sunnah, Apa yang Harus Dilakukannya; Membatalkannya atau Menyempurnakannya?

Hukum Menjamak Antara Shalat Jumat dengan Shalat Ashar Dalam Safar atau Perjalanan


TAGS umum


Sahabat Sekalian... Komentar Non Aktif Sementara... Mohon Maaf... Jikalau Ada yang Perlu atau Penting Dikomentari, Silahkan email ke: denisarifandips@gmail.com atau WA: 081382088702. Hanya WA Saja ya...
-

Search