NikahSirri.Com, Bisnis Pelacuran Berpakaian Agama

25 Sep 2017

Aris Wahyudi, pemilik sekaligus pendiri situs www.nikahsirri.com, ditangkap Tim Cybercrime Krimsus Polda Metro Jaya atas dugaan tindak pidana ITE dan atau pornografi serta perlindungan anak. Penangkapan tersangka Aris terjadi setelah Tim Cybercrime Krimsus Polda Metro Jaya menemukan situs www.nikahsirri.com pada 22 September 2017 lalu.

Situs tersebut berisikan konten pornografi yang menawarkan fasilitas lelang perawan dan juga menyediakan jodoh serta wali. Polisi juga menyita barang bukti berupa laptop, empat buah topi berwarna hitam bertuliskan “Partai Ponsel,” dua buah kaos berwarna putih bertuliskan “Virgins Wanted,” dan satu spanduk hitam bertuliskan “Deklarasi Partai Ponsel Brutally Honest Political.”

Nikahsirri.com adalah website bisnis pelacuran berbalut agama. Ini bisa dilihat dari motif pendirinya Aris Wahyudi, yang dalam suatu wawancara dengan sebuah media nasional (sebut saja JPNN di Minggu (24/9) menjelaskan program yang ditawarkan memang kawin kontrak dan lelang perawan/perjaka. Ia menjelaskan bahwa yang dilakukannya adalah ’’mengonlinekan’’ praktik kawin kontrak yang selama ini terjadi di kawasan puncak Bogor. Dalam pandangannya, itu tidak melanggar hukum pidana.

Nikah sirri atau nikah kontrak adalah legalisasi pelacuran berbalut agama. Nikah kontrak adalah salah satu upaya illegal para pemuja syahwat untuk memuaskan nafsu mereka. Apa yang terjadi di puncak bukanlah dalil yang mendukung bolehnya nikah kontrak. Banyak sisi-sisi negarif yang akan merugikan pihak wanita dari pernikahan kontrak ini, mulai dari masa depan yang akan hancur, kemudian anak keturunan yang nantinya akan terabaikan kehidupannya, dan lail-lain.

Nikah Kontrak Katanya Boleh Dalam Islam?

Dalam Islam, Nikah Kontrak itu dikenal dengan istilah Nikah Mutah. Nikah yang dilakukan dengan jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan. Jikalau jangka waktu itu habis, maka keduanya berpisah.
Para Ulama bersepakat, bahwa ini tidak boleh dilakukan dan hukumnya haram. Memang, ia sudah ada pada zaman Jahiliyyah, yaitu jikalau seseorang melakukan perjalanan, kemudian singgah di suatu negeri untuk beberapa lama, maka dia menikahi perempuan yang ada disana dalam jangka waktu tertentu.
Ketika Islam datang, Rasulullah Saw pun sempat memberikan izin kepada para sahabat untuk melakukannya selama beberapa hari, kemudian menariknya kembali dan menetapkan keharamannya.
Mengenai kapan dimulai masa pengharamannya, maka para Ulama juga berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang mengatakan, bahwa pengharaman dimulai semenjak Khaibar. Sebahagian lainnya mengatakan, semenjak Fath Makkah. Sebahagian lagi mengatakan, semenjak perang Tabuk. Sebahagian lagi mengatakan, semenjak Haji Wada’. Sebahagian lagi mengatakan, semenjak Umrah Qadha’. Dan sebahagian lagi mengatakan, semenjak perang Authas.
Rasulullah Saw bersabda:
“Dahulu saya mengizinkan kalian untuk Nikah Mut’ah, dan Allah Swt telah mengharamkannya sampai Hari Kiamat kelak. Barangsiapa yang melakukannya, maka ceraikanlah perempuan itu, dan janganlah mengambilkan sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya.” [Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud, An-Nasai, Ibn Majah, Ahmad bin Ibn Hibban]
Pendapat ini hanya diselisihi oleh Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, yang juga disetujui oleh para pengikutnya di Mekkah dan Yaman. Dalil yang mereka gunakan adalah firman Allah Swt:
“Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [An-Nisa: 24]
Namun beliau menarik kembali pendapatnya dan berpegang dengan pendapat Jumhur Ulama.
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu berkata kepada Abdullah bin Abbas:
إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ يَوْمَ خَيْبَرَ
“Bahwa Rasulullah Saw melarang Nikah Mut’ah dan daging keledai peliharaan pada Hari Khaibar.” [Diriwayatkan oleh An-Nasai]

Alur Bisnis Pelacuran Berbalut Agama ala NikahSirri.Com

Dalam menjalankan bisnis Pelacuran Berbalut Agama berbasis online ini, ada beberapa tahap yang harus dijalankan oleh para pelanggan yang ingin berbisnis dengan situs Nikahsirri.Com
Pertama, orang yang mau masuk situs atau klien membayar Rp 100.000 yang ditransfer ke rekening pemilik situs. Setelah itu akan diberikan username dan password untuk mengakses data mitra atau orang yang dipilih untuk menjadi pasangan nikah siri.
Kedua, mitra yang memiliki nilai berupa koin akan dipilih oleh klien. Jika klien suka maka dia harus membayarkan harga mitra sesuai dengan koin yang tertera di situs nikahsirri.com. Kemudian pemilik situs akan mengambil 20 persen dan mitra diberikan 80 persen sisanya.

Tujuan Mulia Tidak Menghalalkan yang Salah

Tujuan Aris Wahyudi membuat NikahSirri.Com sebenarnya mulia, yaitu ingin membantu para mahasiswi agar bisa melanjutkan kuliahnya dengan lancar tanpa bermasalah dengan dana. Hanya saja, ini tidak dihalalkan dalam Islam. Hukumnya haram. Sebab, bentuknya saja sudah sama dengan pelacuran. Walaupun dipakaikan pakaian agama, hukumnya tetap haram. Apalagi dilakukan di negeri yang penduduknya adalah penganut paham Ahli Sunnah wal Jamaah. Banyak mudharat juga yang akan menghampiri para wanita yang ikut program ini. Masa depan mereka akan hancur. Tujuan mulia tidak akan menghalalkan sesuatu yang diharamkan dalam syariat.

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati

Baca Juga:
Tingkatan Puasa Asyura; Paling Sempurna Sampai Paling Minimal


TAGS umum


Sahabat Sekalian... Komentar Non Aktif Sementara... Mohon Maaf... Jikalau Ada yang Perlu atau Penting Dikomentari, Silahkan email ke: denisarifandips@gmail.com atau WA: 081382088702. Hanya WA Saja ya...
-

Search