Tragedi Teror di Las Vegas & Makna Teroris yang Masih Bias

3 Oct 2017

Penembakan di Las Vegas Minggu malam (1/10/2017) merupakan insiden penembakan paling buruk dalam sejarah moderen Amerika Serikat. Kejadian ini menewaskan setidaknya 50 orang dan melukai sekitar 200 orang lainnya. PElakunya adalah Stephen Craig Paddock. Banyak yang tidak menyangka laki-laki berusia 64 tahun ini yang melakukannya. Ia dikenal sebagai pria kaya dan gemar berjudi. Namun paling tidak, itu membantah propaganda gerombolan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). ISIS mengklaim Paddock adalah bagian dari mereka, dan belum lama berpindah agama. Namun ISIS sama sekali tidak menunjukkan bukti propagandanya itu. Sementara, motif penembak pun masih belum jelas. Hanya sedikit yang diketahui di luar nama dan sasaran penembakan.

Arti Teroris itu Masih Bias, Tidak Jelas

Istilah teroris makin lama makin bias saja. Dengan tidak adanya standar jelas, seolah-olah setiap yang beragama Islam, berpotensi masuk dalam kategori teroris. Masih ingat dalam ingatan penulis, ada beberapa tokoh Indonesia masuk dalam 119 daftar tokoh yang memiliki kaitan dengan Islamic State of Iraq and El-Sham (ISIS), sebagaimana di muat salah satu media online Timur Tengah, Almashhad-Alyemeni. Media ini mengklaim bahwa ia mendapatkan datanya dari kementerian luar negeri Amerika Serikat.

Ketika iti, dalam daftarnya salah satunya adalah Din Syamsudiin. Ternyata, Ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ini tidak sendirian. Namun, ada juga bersamanya beberapa tokoh atau ulama Indonesia lainnya. Ada Nahdi Saleh Zaki, Brigadir Kesalehan, Shahura Muhammad, Muhammad Zaitun (pemimpin Wahdah Islamiyah?), dan Salim Segraf al-Jufri (mantan Menteri Sosial era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan politikus Partai Keadilan Sejahtera).

Kemudian tidak lama setelah itu, Uni Emirat Arab (UEA) juga merilis daftar 83 daftar organisai teroris dari berbagai penjuru dunia, mulai dari Asia, Amerika, dan Eropa. Dan lucunya lagi, sebagian besarnya adalah organisasi social (al-Jam’iyyah al-Khairiyyah). Di antara yang sempat memancing kehebohan, adalah masuknya al-Ittitad al-Alami li al-Ulama al-Muslimin (Persatuan Ulama Islam Dunia) yang dipimpin oleh Dr. Yusuf al-Qardhawy, yang dikenal di penjuru dunia sebagai ulama yang berpikiran moderat.

Ketika itu, satu pertanyaan menyelinap, kenapa nama-nama yang masuk dalam daftar itu hanya organisasi Islam dan tokoh-tokoh Islam? Kenapa organisasi yang jelas mendukung penjajahan Palestina, misalnya, tidak masuk dalam kategori teroris?
Pasca terjadinya Arab Spring, yang berhasil menjatuhkan beberapa rezim di Timur Tengah, istilah teroris ini memang makin bias saja. Dalam daftar tersebut, yang menempati nomor satu dan sepertinya selalu menjadi langganan adalah organisasi Ikhwan al-Muslimin (IM) di Mesir. Bahkan, ada yang menyatakan bahwa organisasi ini adalah induknya segala organisasi teroris di dunia Islam.

Saya tidak ingin membahas apakah pernyataan ini benar atau tidak. Sebab, yang menjadi perhatian saya adalah biasnya istilah ini, seolah-olah setiap yang beragama Islam dan memiliki pemikiran global, memiliki kans untuk masuk dalam daftar ini.
Jikalau kita lihat tokoh-tokoh Indonesia di atas, rasa-rasanya sangat jauh dari kategori teroris, apalagi memiliki kaitan dengan ISIS. Bahkan, mungkin mereka adalah orang-orang terdepan dalam memberantas segala bentuk kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Misalnya saja, Din Syamsuddin yang aktif dalam organisasi untuk perdamaian dan toleransi antar umat beragama.

Logika kucing terjepit memang memiliki peranan besar dalam masalah ini. Kita tentu tahu bagaimana keadaan kucing jikalau terjepit, semua yang ada di sekelilingnya seolah-olah ingin menjatuhkannya. Dan lebih dari itu, cakarnya pun lansung dikeluarkannya untuk melukai orang yang dicurigainya.

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati


TAGS umum


Sahabat Sekalian... Komentar Non Aktif Sementara... Mohon Maaf... Jikalau Ada yang Perlu atau Penting Dikomentari, Silahkan email ke: denisarifandips@gmail.com atau WA: 081382088702. Hanya WA Saja ya...
-

Search