Apakah Benar Amin Rais itu Pengkhianat Bangsa?

4 Oct 2017

Wakil Presiden ke-6 Indonesia Try Sutrisno menuding Mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais sebagai pengkhianat bangsa. Pangkalnya adalah kekecewaannya terhadap Amien Rais karena saat menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat tak konsisten dalam langkah mengamandemen UUD 1945 yang terjadi selama empat kali di eranya menjabat, 1999-2004. Try Sutrisno kecewa karena amandemen konstitusi membuat MPR sebagai lembaga tinggi negara kehilangan taring. Karena tak berwenang lagi melantik presiden. Try juga menyesalkan amandemen konstitusi itu membuat hilangnya porsi utusan golongan.


Namun, apakah benar begitu? apakah benar Amin Rais itu Pengkhianat Bangsa karena tak konsisten dalam langkah mengamandemen UUD 1945?


Saya rasa tidak juga. Ada sejumlah manfaat sebenarnya yang bisa dirasakan dari amandemen tersebut. Mungkin ada yang tidak senang dengan Amin Rais, namun manfaat yang sudah didapatkan dari amandemen itu pasti dirasakan. Salah satu contoh gampangnya saja, jikalau UUD 1945 tidak diamandemen, maka Presiden yang sama akan terpilih berkali-kali. Bahkan bisa menjadi Presiden seumur hidup. Dengan adanya amandemen, maka jangka terpilihkan seorang Presiden hanya dibatasi dua periode saja. Tidak boleh lebih. Itu hanya salah satunya saja.


Apa Tujuan Amandemen UUD 1945?

Jikalau melihat tujuannya, terangkum dalam tujuh pint berikut ini:

1-Tatanan negara di dalam mencapai tujuan nasional seperti yang tertuang di dalam pembukaan UUD 1945 dan juga untuk memperkokoh negara kesatuan republik indonesia (NKRI).
2-Adanya jaminan dan juga pelaksanaan kedaulatan rakyat serta juga memperluas partisipasi rakyat agar bisa sesuai dengan paham demokrasi.
3-Adanya jaminan dan juga pelaksanaan HAM agar sesuai dengan perkembangan paham hak asasi manusia dan peradaban manusia yang juga merupakan sebuah syarat bagi suatu negara hukum.
4-Tercipta penyelanggaraan negara yang demokratis dan juga modern melalui adanya sistem pembagian kekuasaan yang lebih tegas, adanya sistem saling mengawasi, saling mengimbangi dan transparan serta adanya pembentukan lembaga negara baru.
5-Adanya jaminan konstitusional dan juga kewajiban negara untuk mewujudkan kesejahteraan sosial, menegakan etika, solidaritas serta moral dan juga mencerdaskan kehidupan bangsa.
6-Penyelenggaraan negara untuk eksistensi negara dan juga perjuangan negara dalam mewujudkan demokrasi.
7-Kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan, aspirasi serta kepentingan negara dan bangsa.


Apa Salahnya dengan Amandemen?

Mengubah Konstitusi atau mengamandemennya untuk tujuan yang lebih baik adalah sesuatu yang wajar. Itu bukan saja di dunia, tapi di banyak negara di dunia juga berlaku hal yang sama. Sebagaimana dikatakan oleh Ahli hukum tata negara Universitas Andalas (Unand), Feri Amsari bahwa hanya negara-negara yang rezim otoriternya ingin berkuasa saja yang menggunakan konstitusi yang “tua” karena mudah ditafsirkan sekehendak rezim. Sehingga, katanya lebih lanjut, gagasan mengembalikan UUD adalah gagasan mengembalikan otoriterianisme.


Polemik Tidak Usah Dilanjutkan

Sudahlah. Abaikan saja ucapan Mantan Wakil Presiden Try Soetrisme, anggap saja ucapan beliau adalah pandangan politik dari seorang jenderal yang baik, yang pernah berjasa kepada Bangsa dan Negara. Tidak usah pula ikut-ikutan menyudutkan Amin Rais. Jikalau hati mau jujur, jasa Amin Rais untuk kebebasan yang kita rasakan saat ini, juga tidak bisa dinafikan. Jikalau beliau melakukan manuver-manuver politik, itu biasa saja. Karena beliau memang orang yang sejak mudanya memang aktifis politik dan pakar dalam bidang politik. Beliau itu professor bidang politik.

Justru, yang harus dipermasalahkan itu adalah para mulut besar, yang hanya mampu teriak-teriak di belakang layar, tidak punya kontribusi, hanya menghabiskan energi, bermain di balik kegundahan anak bangsa, tidak paham masalah, sibuk mengadu domba. Orang-orang seperti ini sebaiknya dikuburkan saja. Mereka hanyalah zombie-zombie penghisap darah yang menipu manusia dengan pakaian Pancasila. Dalam pikiran mereka, hanyalah “perut” dan “perut”, nafsu dan serakah. Apa guna?!

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati

Baca Juga:
Siapa Sajakah Para Istri dan Anak-Anak dari Ali bin Abi Thalib?


TAGS umum


Terimakasih Atas Kunjungan Anda. Salam Kenal. Salam Bersahabat
-

Search