#HUT TNI ke-72: Kapan TNI Kembali Menjadi Macan Asia?

5 Oct 2017

Pada hari ini, Kamis, tanggal 5 Oktober 2017 adalah hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke-72. Tentunya saya dan Warna Negara Indonesia lainnya berharap agar di usianya ini, TNI semakin hebat dan meningkatkan profesionalitas prajuritnya. Ulang tahun kali ini di Pelabuhan Indah Kiat, Cilegon, Bante. Harapan ini dirasa tidak terlalu berlebihan, sebab pada HUT kali ini TNI mengusung tema:  ‘Bersama Rakyat, TNI Kuat, Hebat, Profesional Siap Mewujudkan Indonesia yang Mandiri, Berdaulat, Berkepribadian, Adil dan Makmur’.

Pada tahun 1960-an, Militer Indonesia pernah menjadi MACAN ASIA, yang ditakuti lawan yang disegani kawan. Tentu, kita sebagai rakyat Indonesia berharap masa itu kembali lagi, agar Negara kita ini tidak gampang digoyah musuh, tidak gampang diombang-ambingkan dalam percaturan Global. Bagaimana pun TNI adalah penjaga gawang NKRI. Jikalau TNI lemah, maka dengan sendirinya Indonesia akan lemah, yang akan dengan mudah akan dikuasasi asing. Dan rakyat adalah lapis kedua TNI. Jikalau TNI dan rakyat sudah bersatu, maka tidak ada masalah yang tidak akan teratasi. Itulah harapan terbesar kita.

Jikalau kita bertanya, kapan TNI akan kembali menjadi Macam Asia lagi? Maka, jawabaannya adalah Sesegera Mungkin…

Berkaitan dengan itu, ada beberapa catatan penting berkaitan dengan TNI kira ini.

TNI adalah Patriot Sejati

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa patriot itu artinya adalah pecinta (pembela) tanah air. Dan sikap patriotisme adalah sikap yang berani, pantang menyerang, dan rela berkorban demi negara. Nah, jikalau diperhatikan, untuk mencapai tahap yang luar biasa ini, tentu ada beberapa elemen yang harus dipenuhi prajurit. Sebab, jikalau salah satunya saja tidak tercapai, maka dikhawatirkan tujuan untuk menjadi patriot sejati tidak akan tercapai dengan sempurna.

Elemen pertama tentu jiwa nasionalisme dalam diri prajurit. Mereka harus sadar bahwa tugas membela negara itu adalah tugas mulia, yang bukan saja diberikan ganjaran dan penghargaan luar biasa dari negara, namun juga dari agama. Selain dibekali dengan pendidikan keprajuritan dan nasionalisme, rasa spritual yang tinggi juga harus ada dalam diri prajurit. Walaupun senjata sudah canggih, namun jikalau jiwanya tidak mantap, maka bisa dipastikan kekalahan sudah ada di depan mata.

Elemen kedua itu adalah jumlah prajuritnya. Idealnya, sebagaimana dijelaskan banyak pakar militer, 1 orang prajurit menjaga 3 orang Warga Negara. Dan untuk seideal itu, Indonesia masih jauh. Berdasarkan catatan dari Forbes di 2016, pasukan aktif TNI hanya sekitar 676.500 Tentara yang mencakup seluruh angkatan baik AD, AU, AL. Untuk jumlah personel aktif yang siap bertugas di garis depan pada 2015, TNI hanya memiliki 476 ribu orang dan pasukan cadangan 400 ribu personel.  Coba bandingkan dengan Malaysia yang setiap prajuritnya harus menjaga 4,12 kilometer; Thailad yang setiap prajuritnya harus menjaga 2,71 kilometer; dan Singapura yang setiap prajuritnya harus menjaga 0,01 kilometer. Itu berdasarkan wilayah. Sedangkan jikalau dirasiokan dengan warganya, maka seorang anggota TNI harus menjaga 722 orang warga. Sedangkan Malaysia, maka satu prajuritnya harus menjaga 310 orang saja, tidak sampai separonya. Dan untuk Thailand, satu orang prajuritnya harus menjaga 342 orang, dan Singapura setiap prajuritnya harus menjaga 91 orang.

Selain dari jumlah personilnya, TNI juga harus dilihat dari sisi persenjataannya (alutsista). Prajurit dan senjata bagiankan dua sisi mata uang, yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jikalau lemah salah satunya, maka kekuatannya akan timpang. Dan jikalau dibandingkan dengan Negara lainnya, terutama Negara-negara tetangga, kekuatan persenjataan TNI masih jauh ketinggalan. Berdasarkan catatan Forbes 2016  Indonesia memiliki tank lapis baja 400 unit, kendaraan tempur lapis baja 506 unit, artileri jarak jauh 62 unit, peluncur roket 50 unit, mortir 3.350 unit, senjata antitank 11 ribu unit, dan kendaraan angkut logistik 11.100 unit. Kapal perang 150 unit, kapal selam 2 unit, kapal angkut personel 26 unit, kapal kelas korvet 23 unit, kapal kelas frigat 6 unit, kapal patroli 70 unit, serta pesawat tempur 118 unit (50 unit pesawat tempur sergap dan 68 pesawat tempur taktis). Dan sepertinya di tahun 2017 ini, kekuatan alutsista TNI semakin meningkat tajam.

TNI dan Politik

.Salah satu bentuk keprofesionalitasan TNI yang ingin saya sorot dalam masalah keterlibatan dalam politik praktis. Diharapkan TNI untuk tetap berada di jalurnya. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum (Pemilu). Disana dinyatakan dengan jelaskan bahwa anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan anggota Kepolisoan Republik Indonesia (POLRI) tidak menggunakan haknya untuk memilih dalam pemilu. Jikalau aturannya sudah jelas seperti itu, maka diharapkan anggota TNI tidak ada yang lagi terlibat secara lansung maupun tidak lansung dalam politik praktis, termasuk pengaruh yang dimiliki oleh para petingginya.

TNI dan Rakyat

Sebagai pelindung rakyat, tentu TNI tidak bisa menjauhkan dirinya dengan rakyat, sebab mereka sendiri pada dasarnya berasal dari kalangan rakyat. Bagi rakyat, TNI itu adalah penjaga Negara, baik wilayah maupun wibawanya, serta juga menjadi tempar untuk berlindung.

Di usia yang ke 72 tahun ini, mudah-mudahan Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan semakin mencapai kejayaannya, baik di Darat, di Laut, maupun di Udara. Kemudian juga menjadi angkatan yang disegani di seluruh dunia, yang tentunya menjadi syarat mutlak agar Negara Indonesia ini memiliki gaung yang hebat dan peranan yang vital dalam menjaga keamanan dunia. Paling tidak, Indonesia harus kembali menjadi MACAN ASIA.

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati

Baca Juga:

Hukum Istri yang Tidak Memperhatikan Penampilannya di Depan Suaminya


TAGS umum


Terimakasih Atas Kunjungan Anda. Salam Kenal. Salam Bersahabat
-

Search