Poligami Tidak Semudah Khayalanmu, Syarat-Syaratnya Berat

7 Oct 2017

Sekarang, poligami kembali menjadi issu yang hangat, karena salah seorang dai Nasional terkenal, Ustadz Arifin Ilham kembali menikah untuk ketiga kalinya. Istri pertamanya adalah keturunan Aceh, istri kedua keturunan Yaman, dan yang ketiga adalah keturunan Sunda denga status janda dengan 2 anak. Sebagaimana biasanya, setiap kejadian pasti akan mengundang dua pandangan. Ada yang mendukung, dan tidak sedikit juga yang mengecam. Itu oke-oke saja. Setiap orang punya pandangannya masing-masing.

Poligami adalah syariat. Itu jelas dan tidak usah diperdebatkan. Hanya saja, untuk menjalankannya ada syarat. Dan itu, berat. Banyak lelaki yang mau poligami, namun sedikit yang mampu menjalani. Nyali mungkin besar, namun kemampuan materi tidak bisa dijadikan tempat bersandar. Seringkali, untuk menafkahi satu istri saja sudah tertatih-tatih, berharap pula tambah istri. Bukannya sakinah mawaddah wa rahmah yang akan didapatkannya, malah akan berujung dengan kehancuran rumah tangga. Itu yang dikhawatirkan.

Sebelum berniat poligami, ukur dulu kemampuan diri. Jangan hanya gede nyali, namun tidak kuat materi. Jangan hanya besar omongan, namun kosong kemampuan. Jangan sampai umbar cerita poligami sana sini, ketika diminta realisasikan, malah kabur seolah-olah tidak pernah ungkapkan.

Pertama, al-Qudrah (kemampuan)
Pastikan dulu ada kemampuan untuk melakukan poligami; kemampuan materi dan kemampuan jasmani. Pastikan penghasilan yang dimiliki sudah turah-turah (berlebih-lebih) untuk satu istri. Jikalau kasih nafkah satu istri saja masih terasa susah, jangan berharap nambah. Kalau tetap dipaksakan, seminggu setelahnya rumah tangga akan berantakan, bahkan berujung dengan perceraian.   Begitu juga dengan kemampuan jasmani. Jikalau badan rasanya sudah tidak kuat, tidak usah berharap menambah beban hidup yang semakin hari semakin berat. Apalagi jikalau kemampuan syahwat juga sudah diujung syaraf, tujuan pernikahan yang salah satunya adalah al-Tanasul (beranak turunan) malah tidak akan tergapai, akhirnya; cerai.

Kedua, Al-‘Adl (adil)
Jikalau ingin berpoligami, pantaskan diri terlebih dahulu agar adil berbagi; bagian hari dan bagian materi. Adil bukan berarti sama. Adil sesuai dengan kebutuhan. Disinilah letaknya kebijaksaan. Namun seringkali, bagaimana mau bijaksana, jikalau akalnya sudah disibukkan untuk memenuhi nafkah sejumlah istri yang dimiliki. Pusing, mungkin. Stress, hampir. Jikalau tidak bisa berbuat adil, maka ancaman akan berjalan miring pada hari kiamat sudah di depan pelupuk mata. Semua manusia akan menyaksukan. Semua ketidakadilan akan dipertanyakan. Itulah adil yang diminta dalam poligami. Kalau masalah cinta, itu tidak bisa. Mustahil. Sebab, Nabi juga tidak bisa bersikap adil dalam hal cinta terhadap para istrinya. Khadijah dan Aisyah tetaplah yang paling tinggi tempat ditahtanya di istana hati sang baginda. Adil yang disebutkan dalam ayat poligami adalah adil pembagian hari dan materi, bukan cinta.

Ketiga, Batasanya Hanya Empat
Jikalau pasangan yang sudah dimiliki sudah berjumlah empat, jangan berharap menambah lagi. Itu sudah batasan maksimalnya. Jangan pula berdalil bahwa Nabi punya sebelas istri, sebab itu kekhususan bagi beliau yang tidak dimiliki umatnya. Makanya, ketika dahulu ada seseorang di zama jahiliyyah yang masuk Islam, yang istrinya sepuluh, Nabi menyuruhnya memiliki empat orang di antaranya.

Keempat, Tidak ada Syarat “Tidak Boleh Poligami” dalam Akad Nikah
 Jikalau dalam akad nikah, perempuan mensyaratkan kepada suaminya tidak akan dimadu, kemudian laki-laki yang akan menjadi suaminya itu setuju, maka itu adalah syarat sah. Artinya, jikalau sampai suaminya menikah lagi, padahal dalam kondisi masih bersamanya, maka si istri bisa meminta pisah. Namun jikalau tidak ada syarat itu dalam akad nikah, maka hukumnya sah-sah saja, selama tiga syarat sebelumnya bisa dipenuhi dengan baik. Dan bagi para wanita yang tidak ingin suaminya poligami, maka sejak awal hendaklah dikasih syarat: “tidak akan mendua.”

Poligami adalah bagian dari syariat Islam. Itu jelas. Tidak usah diperdebatkan. Namun jangan hanya sekadar buat mainan. Ada syarat-syarat berat yang membersamainya. Bercerminlah sebelum melangkah lebih jauh. Jikalau mampu, silahkan. Jikalau tidak, usah dulu dilakukan.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, poligami disyaratkan dengan izin istri pertama. Tujuannya adalah kemaslahatan dan kebaikan bersama. Agar tidak terjadi seperti yang sekarang ini heboh di media; artis poligami dan cerai. Lagi dan lagi. Ujung-ujungnya, itu hanyalah akan mencoret nilai-nilai dan tujuan-tujuan baik yang ada di balik poligami. Akibat ulah oknum-oknum yang tidak hakikat syariah.

Sekali lagi, poligami adalah mimpi setiap lelaki. Ada yang mampu bangun dan tersadar melihat kemampuan diri. Ada yang masih larut dalam mimpi, yang mungkin baru sadar jikalau sudah ada yang meneriaki.

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati

Baca Juga:

Jangan Meragukan Janji Allah Swt, Agar Hati Anda Tidak Rusak


TAGS umum


Terimakasih Atas Kunjungan Anda. Salam Kenal. Salam Bersahabat
-

Search