Dwi Hartanto: Ilmuwan “Gila” Puja & Ketenaran, Bermodal Kebohongan

9 Oct 2017

Masih teringat jelas dalam ingatan saya, sebuah postingan yang begitu viral di kalangan Netizen, dimana seorang laki-laki yang bernama Dwi Hartanto bersanding dengan Mantan Presiden Republik Indonesia, yang juga ilmuwan dunia, yaitu B.J. Habibie.
Dwi Hartato mengaku memiliki sejumlah prestasi di bidang kedirgantaraan. Sampai-sampai, ada yang menjulukinya dengan ilmuwan muda sebagai The Next BJ Habibie. Terus terang, ketika itu saya kagum; seorang anak muda yang mungkin usianya tidak jauh beda dengan saya, namun prestasinya luar biasa, mampu mengguncang dunia.  Apalagi, ketika itu ia mengaku tengah merancang jet tempur generasi keenam yang akan jauh lebih canggih dibanding pesawat jet saat ini, kemudian ia juga pernah memenangkan lomba riset Space craft and Technology di Jerman dan mengalahkan sejumlah ilmuwan dari negara lain. Bahkan, pada perayaan HUT RI ke-72, 17 Agustus kemarin KBRI di Den Haag memberikan penghargaan kedirgantaraan pada kandidat Doktoral di Technische Universiteit Delft ini.

Terbongkarnya Kebohongan Dwi Hartanto

Namanya sudah tenar, tentu saja membuat Para Pelajar Indonesia yang berada di Delft bertanya-tanya tentang sosok Dwi Hartanto itu sendiri. Mereka mulai curiga dan melakukan pengecekan. Dan ternyata, satu per satu Dwi pun terbongkar. Puncaknya, KBRI Den Haag mencabut penghargaan yang kemarin diberikan. Mereka tak menyebut secara jelas apa penyebab dicabutnya penghargaan tersebut. Dubes I Gusti Agung Wesaka Puja hanya menyampaikan ada beberapa hal yang terjadi di luar praduga dan itikad baik dan mengharuskan penghargaan tersebut dicabut berdasarkan Keputusan Kepala Perwakilan Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda Nomor SK/023/KEPPRI/VIII/2017 tentang Penghargaan kepada Dr. Ir. Dwi Hartanto. Ia sendiri sudah mengakui kesalahannya, kemudian menyampaikan permohonan maafnya. Ia mengaku sudah memberikan informasi yang tidak benar, tak akurat dan cenderung melebih-lebihkan. Khususnya soal prestasinya di bidang dirgantara dan keilmuan soal roket.

Apa Saja Kebohongan Dwi Hartanto?

Ada beberapa kebohongan yang selama ini dipropagandakan oleh Dwi Hartanto.
Pertama, Latar Belakang Pendidikan
Dwi Hartanto mengaku dia bukanlah lulusan Institut Teknologi Tokyo, Jepang. Namun lulus S1 dari Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta. Namun untuk s2 dan s3 nya, memang ia melanjutkan studinya di Technische Universiteit Delft. Namun, ia hanyalah kandidat doktor, bukan Post-Doctoral maupun Assitant Professor yang selama ini didengung-dengungkan. Kemudian, ia bukanlah kandidat Doktor di bidang space tecnology and rocket science, namun kandidat doktor di bidang Interactive Intelligence (Departemen Intelligent System).

Kedua, Masalah Roket dan Jet Tempur
Di beberapa situs berita tanah air, Dwi Hartato disebut-sebut membuat roket TARAV7S yang merupakan proyek dari Kementerian Pertahanan dan Belanda dan Pusat Kedirgantaraan dan Antariksa Belanda. Diakuinya kemudian, roket TARAV7S itu tak pernah ada. Ia hanya membuat Roket DARE Cansat 7S yang merupakan proyek amatir roket mahasiswa di Delft. Bukan pula proyek dari Dutch Space atau Airbus Defence. Mereka hanya sponsor yang memberikan bimbingan serta bantuan dana. Kemudian, yang mengejutkan adalah informasi yang disampaikannya soal pesawat jet tempur generasi keenam itu pun rupanya hanya karangan Dwi belaka.

Ketiga, Kemenangan Dalam Lomba Bergengsi Soal Antariksa di Jerman
Dwi Hartanto juga mengaku sebenarnya tidak pernah menang lomba bergengsi soal antariksa di Jerman. Ternyata, ia mengedit foto dirinya tengah memegang plakat hadiah lomba dengan nominal 15.000 Euro.

Keempat, Pertemuan dengan B.J. Habibie
Dwi Hartanto mengaku bukan BJ Habibie yang mengajaknya untuk bertemu, melainkan dia meminta bantuan KBRI untuk dipertemukan dengan BJ Habibie.

Kelima, Wawancara dengan Stasiun TV Belanda
Dwi Hartanto mengaku sama sekali tidak pernah melakukan wawancara dengan Stasiun TV Belanda.

Keenam, Tawaran Pindah Kewarganegaraan
Dwi Hartanto juga mengaku bahwa ia ditawari pindah kewarganegaraan oleh pemerintahan Belanda. Dan itu, ternyata tidak benar

Ilmuwan itu Harus Memiliki Kejujuran

Saat ini, Dwi Hartanto sedang menunggu keputusan resmi dari kampusnya soal deretan kebohongan yang telah ia lakukan. Di Indonesia, tentu saja ia sudah dikecam. Sudah berapa banyak Netizen yang dahulu membanggakanya, menshare tulisan mengenai dirinya, namun nyatanya dibohonginya. Jikalau boleh berkata, ia sama sekali tidak layak disematkan gelar “ilmuwan.” Tidak layak, sama sekali tidak layak. Ilmuwan itu bertali erat dengan kejujuran. Jikalau seseorang yang mengaku ilmuwan, kemudian penuh dengan kebohongan, maka ia adalah PECUNDANG, bukan ilmuwan. Laki-laki ini sudah mengorbankan nama besarnya, nama besar kampusnya, nama besar keluarganya hanya demi mendapatkan pujian dan sanjungan dari para Netizen dan orang-orang yang berhasil dikadalinya.

Padahal, apalah nikmatnya pujian? apalagi jikalau dibaluti kebohongan. Mungkin sejenak ia akan merasa bahagia. Namun, saat ini, saya yakin penyesalan besarlah yang dirasakannya. Namun apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur. Masalahnya sudah diangkat sama Pihak Universitas. Bisa jadi, gelar-gelarnya akan dicabut. Kemudian, di tanah air nanti, siapa yang akan mau menampungnya; seseorang yang sudah membohongi publik? Kalau sampai ia berada di suatu kampus, dikhawatirkan nama baik kampus bersangkutan akan cemar.

Jikalau memang sudah berprestasi, maka pujian akan datang dengan sendirinya. Tidak usah membuat kepalsuan dan propaganda kebohongan. Sebab, semua itu hanya akan berbuah penyesalan.

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati

Kunjungi Blog Pribadi DENIS ARIFANDI PAKIH SATI, disini: http://www.denisarifandi.com/


TAGS umum


Sahabat Sekalian... Komentar Non Aktif Sementara... Mohon Maaf... Jikalau Ada yang Perlu atau Penting Dikomentari, Silahkan email ke: denisarifandips@gmail.com atau WA: 081382088702. Hanya WA Saja ya...
-

Search