Kericuhan di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Apa Sebabnya?

12 Oct 2017

Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta diserang massa. Mereka melakukan perusakan. Kaca kantor di Unit Layanan Administrasi Kementerian Dalam Negeri dan beberapa pot bunga pecah. Kemudian sebuah mobil dinas juga rusak. Polda Metro Jaya telah mengamankan 15 orang terkait penyerangan ini, kemudian juga menyita sejumlah barang bukti, berupa satu buah tas warna hitam merk eiger, tiga bilah pisau, lima botol merk stee, satu buah ikat pinggang, beberapa uang logam dan uang kertas, bulpoint, charger dan handset , minyak kayu putih, korek api gas dan minyak angin dan minyak kayu putih.

Adapun nama-nama massa yang diduga sebagai pelaku pengrusakan di Kantor Kemendagri adalah Liten Wanena, Depiles Wanimbo, Yunias Wandik, Jois Yikwa, Iriben, Yusia Kogoya , Othomi Kogoya, Pandimur Yikwa, Ramli Wanimbo, Yupri Wenda, Imannuel Wenda, Waitenus Kiwo, Tomy Wea, Dekison Kogoya dan Yokiles Wanimbo.

Apa Masalahnya?

Kericuhan yang terjadi di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta ini terkait dengan pelaksanaan Pilkada di Tolikara. Massa yang mengaku sebagai pendukung salah satu calon bupati Kabupaten Tolikara inilah yang membuat onar. Awalnya, massa yang berjumlah sekitar 30 orang menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Kemendagri sejak Rabu pagi. Mereka menuntut Mendagri mengesahkan John Tabo-Barnabas Weya. Pada Rabu sore, sekitar pukul 15.00 WIB, Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum dan Dirjen Otonomi Daerah menerima massa. Namun, massa menolak. Mereka meminta langsung dipertemukan dengan Mendagri Tjahjo Kumolo. Padahal, saat itu Tjahjo tidak berada di kantor. Di saat yang sama, sejumlah orang yang hendak diterima oleh Dirjen kembali lagi kepada massa yang berada di luar gedung Kemendagri sambil berteriak. Teriakan itu kemudian memprovokasi massa merangsek ke dalam gedung. Kemudian berujunglah degan keributan dan kericuhan.

Dalam Pilkada, Harus Siap Menang dan Harus Siap Kalah

Inilah salah satu masalah terbesar dalam pilkada atau pemilihan pada umumnya; tidak siap kalah. Namanya kompetisi, harus siap memang, harus siap kalah. Jikalau setiap orang hanya ingin menang, maka mau dibawa kemana bangsa ini? Sikap-sikap premanisme ini hanya akan membuat bangsa ini terpuruk semakin dalam  degradasi moral. Sikap-sikap arif dan bijaksana harus di kedepankan. Jikalau rasanya ada ketidakpuasan atau mendapati kecurangan dalam pilkada, maka angkatlah masalahnya ke ranah hukum, jangan malah main otot dan emosi.

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati


TAGS umum


Terimakasih Atas Kunjungan Anda. Salam Kenal. Salam Bersahabat
-

Search