#HARI SANTRI, Bela Negara Untuk Santri Zaman Now

23 Oct 2017

Setiap tanggal 22 oktober, secara Nasional diperingati sebagai Hari Santri. Bagi kalangans santri, ini merupakan suatu kebanggaan. Sebab, eksistensi mereka sebagai unsur penting dalam bermasyarakat dan bernegara diakui secara resmi. Dan hari Santri ini bukan saja milik kelompok tertentu, tapi milik semua rakyat Indonesia. Hari santri bukan saja milik Nahdhatul Ulama, tapi juga Muhammadiyah. Tapi apreasiasi lebih tentu layak diberikan kepada NU yang sudah menginisasinya. Hari santri bukan saja milik yang nyantri resmi di pesantren, namun juga bagi yang nyantri di mesjid, langgar, surau, dan mushalla. Bahkan, di zaman canggih ini, para santri juga mencakup yang berguru kepada Kyai, Guru, Ustadz, Syeikh tertentu melalui dunia online. Semuanya masuk dalam kategori santri.

Sepanjang sejarah Indonesia, peran santri memang tidak dapat dipinggirkan. Peran mereka dalam meraih kemerdekaan adalah suatu keharusan untuk dikenang. Mungkin, sudah ribuan santri yang tumbang kehilangan nyawanya di tangan penjajah demi mempertahankan nusa dan bangsa. Silahkan sebutkan pahlawan-pahlawan Indonesia, maka akan didapati bahwa sebagian besar di antaranya adalah para santri. Tidak usah jauh-jauh, panglima besar pertama dalam sejarah Indonesia, yaitu Soedirman adalah seorang santri. TNI yang kita kenal sekarang ini, awalnya adalah kumpulan dari para laskar, yang sebagian besarnya laskar Islam, yang sebagian besar anggotanya berstatus santri. Makanya, para santri memang layak mendapatkan kehormatan di bangsa ini, dengan diberikan hari khusus untuk mengenang jasa mereka. Ketika itu, senjata mereka bukanlah senjata otomatis dan senjata modern sekarang ini, tapi sebagian besarnya hanya bersenjatakan bambu runcing. Namun semangat membela negeri berdasarkan nash-nash ilahi menjadi ruh yang mendorong kuat mempersembahkan jiwa dan nyawa.

Dalam konteks sekarang ini, di zaman now, perjuangan para santri bukan lagi dengan bambu runcing dan senjata api, namun dengan pena, pulpen, dan tinta; dengan ilmu dan peradaban. Santri harus kembali menjadi sosok-sosok terdepan membela NKRI dari segala bentuk ideologi yang akan meronrong, semisal paham komunis dan paham ISIS. Propaganda-propganda “sesat” yang mereka umbar harus dihadapi juga dengan propagada-propaganda yang benar dan lurus. Jangan malah sibuk mencela dan mencaci, sebab itu hanyalah perbuatan orang yang kalah di medan ilmu, yang sudah kehilangan akal menghadapi lawan. Jikalau ilmu kurang menghadapi logika musuh, maka banyak-banyaklah baca buku, meleklah literasi. Jangan hanya sibuk ini itu, namun tidak jelas juntrungnya.

Kalau tidak paham idealogi bangsa, itulah pangkal masalah sebenarnya. Mau bela negara di zaman now, tapi tidak paham pancasila, tidak paham UUD 1945, itu musibah. Seorang santri harus mampu menggabungkan antara al-Ashalah (kajian klasik) dengan al-Muasharah (kajian kontemporer). Jangan hanya sibuk dengan kitab-kitab lama, namun tidak paham dengan dunia kekinian. Nanti bisa salah kaprah. Kuatlah ilmu keislaman, kemudian kuatkan juga ilmu ke-Indonesiaan. Jikalau sudah begitu, maka itulah santri hakiki di zaman ini, zaman now, kata anak sekarang.

Tabik
Denis Arifandi Pakih Sati

Ikuti Facebook Denis Arifandi Pakih Sati, Disini: 

 


TAGS umum


Terimakasih Atas Kunjungan Anda. Salam Kenal. Salam Bersahabat
-

Search