Pembuktian Anis Dalam Pesona Ahok di DKI Jakarta

1 Nov 2017

Kepemimpinan Anis Baswedan dan Sandiaga Shalahuddin Uno di DKI Jakarta baru berjalan sekitar 2 minggu lebih. Tentu belum banyak yang bisa dilakukan di tengah PR Jakarta yang begitu menumpuk. Namun salah satu kerja Anis-Sandi yang menjadi trending topic saat ini adalah ditutupnya Hotel Alexis, karena disinyalir melakukan sejumlah memiliki aktifitas illegal, berupa prostitusi terselubung untuk kelas menengah ke atas. Setiap tindakan tentu melahirkan dua sisi, yaitu pro dan kontra. Banyak yang mendukung apa yang dilakukan Anis secara total, ada yang mendukung juga namun mempertanyakan sejumlah hal, kemudian ada juga yang menolaknya dengan sejumlah alasan.

Namun ada satu hal yang perlu dicatat bahwa penutupan Alexis adalah prestasi yang patut diacungi jempol. Sebenarnya, jikalau kita mau melihat lebih dalam, ada beberapa program kerja lainnya dari Anis-Sandi yang sudah mulai berjalan di 2 minggu kepemimpinan keduanya, beberapa di antaranya:
1-Membebaskan lahan MRT hanya 1 jam yang sebelumnya berjalan alot selama 2 tahun
2-Memodifikasi rute Transjakarta sebagai solusi macet
3-Tidak banding atas kemenangan korban gusuran warga bukit Duri
4-Usaha menghentikan Reklamasi
5-Peresmian Gereja
6-Azan berkumandang di Balai Kota
7-Dibuka pusat pengaduan di perangkat daerah
8-Honor buat guru ngaji, marbot Masjid, penggali kubur, dll

Anis Berada Dalam Bayangan Ahok

Ini merupakan sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkri oleh pasangan Anis-Sandi. Keduanya harus bekerja di bayangi oleh pendahulunya, yaitu pasangan Ahok-Jarot. Setiap kebijakan yang dikerjakannya, mau tidak mau, suka tidak suka, akan dibandingkan dengan kerja pasangan sebelumnya. Makanya, di pundak Anis-Sandi ada beban berat, berupa pembuktian bahwa keduanya mampu lebih baik dari Ahok-Jarot. Sepanjang ini, kita bisa melihat apa yang dilakukan oleh pasangan Anis-Sandi masih berada dalam “lampu hijau”. Semua hal baik yang ada dalam pemerintahan Ahok-Jarot, diteruskan oleh Anis-Sandi. Dan jikalau ada yang kurang, maka mereka menambahnya atau mengubahnya sesuai dengan kebutuhan. Dan itu bukanlah sebuah masalah.

Hanya saja, jangan sampai ada yang terlalu nyinyir dengan kerja Anis-Sandi. Keduanya baru menjalankan pemerintahannya selama 2 minggu. Masih ada waktu yang panjang di hadapan mereka. Beri mereka kesempatan untuk berbuat. Perubahan menuju lebih baik itu membutuhkan waktu yang lama, tidak bisa instant. Saya rasa Anis-Sandi juga mampu melakukan yang terbaik untuk DKI Jakarta, sebagaimana Ahok-Jarot juga mampu melakukannya.

Jangan Mendewakan Tokoh

Inilah salah satu penyakit kita di alam demokrasi. Kita kadangkala mendewakan tokoh. Jikalau itu yang terjadi, maka tokoh yang didewakan akan selalu benar tanpa salah. Ahok ada fansnya, sebagaimana Anis ada juga fansnya. Namun, jikalau mengidolakan sampai mendewakan, itu akan membuat logika kita buntu. Cukuplah kita kagum dengan tokoh tertentu tanpa harus mendewakan. Jikalau salah, ya salah. Jikalau benar, ya diakui. Begitu juga dengan Anis dan Ahok. Keduanya manusia biasa, yang bisa salah dan bisa benar. Keduanya memiliki prestasi, sebagaimana keduanya juga memiliki salah. Sudahlah. Semua harus bergerak maju ke depan. Dukung semua yang baik, siapapun yang melakukannya. Jikalau salah, dikritik, siapapun orangnya.

Begitu…

Tabik,
Denis Arifandi Pakih Sati


TAGS umum


Terimakasih Atas Kunjungan Anda. Salam Kenal. Salam Bersahabat
-

Search