BANSER & KOKAM Jangan Sampai Mau di Adu Domba

9 Nov 2017

Banser kembali menjadi sorotan. Setelah beberapa kali membubarkan pengajian, beberapa hari yang lain Banser juga dipermasalahkan karena menolak kehadiran Felix Siauw yang akan mengisi pengajian di Masjid Manarul Islam, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (04/11/2017) lalu.

Kemudian, masalah Banser ini kembali menghangat, yaitu ketika Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Kabupaten Garut menolak kehadiran Ustaz Bachtiar Nasir dan KH Ahmad  Sobri Lubis, yang rencananya akan mengisi tausiah pada acara Tabligh Akbar di Masjid Agung Kabupaten Garut, Sabtu (11/11). Penolakan ini tertera jelas dalam surat PCNU Kabupaten Garut tanggal 05 November 2017 nomor : 0213/PC/A.II/D-2/XI/2017. Sebagaimana kita ketahui, Banser yang merupakan singkatan dari Barisan Ansor Serbaguna, adalah badan otonom NU dari GP Ansor. Bertugas dalam pengamanan, menjalankan misi kemanusiaan di berbagai daerah di Indonesia.

Masalahnya tidak sampai disitu. KOKAM alias Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah, yang merupakan salah satu bidang program kerja organisasi otonom dari Muhammadiyah yaitu Pemuda Muhammadiyah, menyatakan siap hadir dalam rangka sebagai undangan dan mendengarkan tausyiah serta menerjunkan pasukan KOKAM Garut untuk pengamanan agenda tabligh akbar.

Jikalau keduanya bertemu, kemudian keduanya saling meluapkan emosi, Anda bisa membayangkan apa yang akan terjadi? Dua kelompok dari Dua organisasi paling besar di Indonesia bertemu dan akan bentrok. Masalahnya akan panjang dan akan melahirkan masalah yang lebih besar.

Satu hal yang perlu dicatat dengan baik, jangan sampai kedua organisasi ini diadu domba oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Tidak akan ada yang menang jikalau ada yang bentrok. Jikalau tidak jadi arang, ya jadi abu. Jikalau kedua kelompok sampai terjadi bentrok, maka yang rugi adalah umat Islam khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Issu-Issu yang membenturkan elemen-elemen yang ada di antara Rakyat Indonesia ini sekarang ini, berhembus begitu kencang. Entah ada yang sengaja menghambuskannya atau tidak, kita juga tidak bisa memastikan.

Saling klaim paling Indonesia, paling Pancasila, paling NKRI adalah penyakit kita sekarang ini. Harus segera diobati. Sudah jelas kita ini Indonesia, tidak usah saling klaim lagi. Jangan kita terus-terusan seperti anak kecil, seperti anak yang baru lahir kemaren sore, yang sukanya hanya merengek, nyinyir tidak berkejelasan. Semua pihak harus kembali ke jalan yang lurus, jalan kebhinnekaan. Jikalau ada pihak-pihak yang dirasa melenceng dari jalan itu, maka ingatkan dulu baik-baik. Jangan ada yang main hantam. Negara kita adalah negara demokrasi yang menghargai setiap pendapat. Jangan dirusak.

Setiap masalah harus diselesaikan dengan musyawarah dan mufakat. Kita rindu suasana dahulu yang jauh dari kebirisikan, yang jauh dari suasana “panas” seperti sekarang ini. Entah kenapa issu-issu sensitif semakin sering muncul ke permukaan..

Tabik,
Denis Arifandi Pakih Sati

Follow Me..


TAGS umum


Terimakasih Atas Kunjungan Anda. Salam Kenal. Salam Bersahabat
-

Search