Pahlawan itu adalah KONTRIBUSI, Bukan Sekadar Menikmati

10 Nov 2017

Jikalau berbicara masalah Pahlawan, maka itu artinya kita sedang berbicara masalah KONTRIBUSI. Siapapun pahlawan yang kita dapati namanya termaktub dalam buku-buku sejarah, apapun agamanya, apapun suku bangsanya, semua itu bermuara pada Kontribusi yang sudah diberikannya, yang dalam konteks kita adalah Negara Indonesia atau lengkapnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pahlawan itu, ketika berbuat, pasti selalu tanpa pamrih, tanpa berharap dikenang, tanpa berharap dipuja. Bisa dikatakan, setiap pahlawan yang termaktub dalam sejarah adalah pahlawan Tanpa Berharap Jasa, apalago Tanda Jasa. Mereka ikhlas berbuat demi bangsa, demi menjalankan perintah agamanya yang menjelaskan bahwa Cinta Tanah Air itu adalah bagian dari Iman, menjaga Tanah Air adalah Jihad, adalah kewajiban yang diganjar dengan pahala yang besar di kehidupan selanjutnya. Kalau ada orang yang menetapkannya sebagai Pahlawan setelah kepergiannya, maka itu bukan atas keinginannya, tapi karena orang melihat jasa besarnya dalam kontribusinya.

Pahlawan, bisa dikatakan terdiri dari dua kata: Pahala, dan Wan. Pahala adalah balasan tidak kasat mata atau non materi dari sang Maha Pencipta. Sedangkan Wan menunjukkan orang. Artinya, pahlawan adalah orang yang banyak pahalanya karena sudah berbuat sekuat tenaganya dan sekuat energinya demi kemajuan bangsanya.

Semua kita adalah pahlawan. Hanya mungkin berbeda konteksnya, dan juga sesuai dengan kontribusi yang sudah diberikannya. Pahlawan Nasional, itu artinya kontribusi yang sudah diberikannya itu bertaraf Nasional, dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia lintas generasi. Tapi jikalau kita mau cermat, ada juga sebenarnya pahlawan tingkat daerah, yang kontribusinya baru mengjangkau daerahnya saja. Ada juga pahlawa tingkat kecamatan, tingkat desa, sampai tingkat keluarga. Itulah tingkatan pahlawan paling minimal. Sebab, pahlawan keluarga adalah orang yang kontribusinya masih berada dalam spectrum keluarganya. Makanya, ayah sering disebut pahlawan keluarga. Karena ia berjuang hidup dan mati demi mendapatkan nafkah, demi anak-anaknya.

Pahlawan itu adalah manusia-manusia abadi, yang umur sejarahnya jauh melampui umur biologisnya. Coba kita perhatikan, berapa usia Muhammad Hatta. Tidak panjang. Tidak sampai ratusan tahun. Tapi namanya dikenang sampai sekarang, dan kelak selama Indonesia masih ada, akan tetap dikenang. Lihat Soekarno. Berapa usianya? Tidak panjang-panjang juga. Namun namnya dikenang sampai sekarang oleh seluruh rakyat Indonesia, selalu didoakan untuk kebaikannya, dan itu akan berlansung selama Indonesia masih berdiri kokoh. Begitu juga dengan para pahlawan lainnya. Kontribusi mereka mengabadikan mereka dalam catatan sejarah.

Maka, kita yang masih hidup ini wahai sahabat sekalian, jangan hanya berpangku tangan. Setiap Afiliasi pasti membutuhkan Kontribusi. Kita mengaku berafiliasi dengan Indonesia, mengaku penduduk Indonesia, namun apa yang sudah kita persembahkan untuk Negara ini? Apa? Jangan-jangan kita hanya jadi parasit, numpang makan dan hidup saja, kemudian merusak dan membunuh NKRI.

Sahabat, Jikalau kita tidak mampu berbuat berkontribusi untuk negeri, paling tidak tahanlah keburukan kita, jangan merusak jalannya kemajuan bangsa, jangan gadaikan apalagi jual Negara demi perut kita. Ampoon kan kami!

Tabik, Denis Arifandi Pakih Sati
Follow My Facebook:


TAGS umum


Terimakasih Atas Kunjungan Anda. Salam Kenal. Salam Bersahabat
-

Search