Apakah Tersangka Kasus e-KTP akan Kembali Menunjukkan Kesaktiannya?

13 Nov 2017

Kasus e-KTP sepertinya akan terus mengejar salah seorang petinggi partai Golkar. Walaupun di praperadilan, status tersangkanya sudah dinyatakan tidak sah. Namun, pada  Senin (6/11/2017), ia kembali terjadi tersangka dalam kasus yang sama. KPK seakan-akan tidak mau menyerah untuk tetap melangkah menyelesaikan kasus yang satu ini. Walaupun mungkin banyak pihak yang berusaha menghadang.

Menegakkan keadilan adalah sebuah keharusan dalam hukum dan kehidupan bernegara. Jikalau hukum sudah diabaikan, maka kehancuran sudah berada di hadapan mata. Keadilan itu adalah sebuah kelaziman. Tidak ada bedanya antara yang kaya dengan yang miskin, yang pejabat maupun yang rakyat. Semuanya sama.

Keadilan adalah ruh. Ia harus bersikap objektif, bukan subjektif. Jikalau hukum berlaku subjektif, maka ia akan bersifat tajam ke bawah, kemudian tumpul ke atas. Ia hanya akan menyikat rakyat bawah, mengabaikan kelas menengah ke atas. Kondisi seperti itu akan menyebabkan, siapa yang berduit, siapa yang berkuasa, maka kemenangan akan ada di tangannya.

Para hakim yang berkuasa di pengadilan akan berubah menjadi perpanjangan tangan kuasa. Padahal, hakim harus selalu berada di pihak kebenaran. Ia harus objektif menilai. Tidak boleh memihak salah satu kelompok yang bertikai. Makanya dijelaskan, hakim itu satu kakinya berada di surga, dan kaki lainnya berada di neraka. Jikalau ia adil, ia masuk surga. Jikalau zalim, maka ia masuk neraka.

Dalam kasus ini, kita berharap tegaknya keadilan. Jangan sampai hukum dipermainkan. Uang yang dikorupsi dalam kasus e-KTP itu adalah uang rakyat. Tidak main-main jumlahnya. Keringat rakyat diperas demi menghidupi golongan elit. Itu adalah kezaliman di atas kezaliman, yang harus dihabisi sehabis-habisnya.

Dan kita berharap kasus ini segera diselesaikan. Semua pelakunya mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Pertanyaannya sekarang, apakah sang pejabat elit ini akan kembali menujukkan kesaktiannya; bebas dari jerat tersangka? Kita saksikan saja. Anda tentu paham siapa yang saya maksud. Saya tidak berani menyebut nama karena takut melanggar UU ITE. Maklum, saya orang kecil, tidak punya dana sewa pengacara.

Tabik,
Denis Arifandi Pakih Sati


TAGS umum


Terimakasih Atas Kunjungan Anda. Salam Kenal. Salam Bersahabat
-

Search