Layakkah Aksi Walk Out di Pidato Anis Baswedan di Acara Kanisius?

14 Nov 2017

Ananda Sukarlan kita kenal sebagai Komponis terkenal. Gaung namanya bukan saja di Indonesia, namun juga dunia. Cakupannya bukan saja Nasional, namun juga internasional. Sebagai sosok penerima penghargaan di bidang kemanusiaan dan seni musik, sikapnya yang kemaren Walk Out (WO) bersama sejumlah alumi lainnya ketika Gubernur Anies Baswedan menyampaikan pidatonya dalam peringatan satu abad berdirinya Kolese Kanisius, sangat sangat disayangkan.

Acara ini dihelat di hari Sabtu (11/11/2017) di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat. Alasannya, ia menganggap Anis Baswedan adalah sosok yang memiliki nilai-nilai dan integritas yang bertentangan dengan apa yang telah diajarkan dahulu kepadanya dan teman-temannya di Kanisius. Ia menjelaskan lebih lanjut pidatonya di acara tersebut, sebagaimana dimuat sejumlah media bahwa walaupun Anis Baswedan diundang karena jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, pihak panitia seharusnya juga melihat orangnya, kata Ananda. Dalam pandangan, Anis Baswedan adalah orang yang mendapatkan jabatannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kanisius. Ia menjelaskan bahwa ucapannya ini tidak terkait dengan politik, tapi soal nurani dan nilai kemanusiaan.

Terus terang, saya tidak setuju dengan tindakan yang dilakukan oleh Ananda Sukarlan ini, yang terkesan kekanak-kanakan. Walaupun ia menyatakan tidak ada kaitannya dengan politik, ucapan yang disampaikannya itu kental sekali bau politiknya, seolah-olah ia belum bisa move on dengan pilihannya di Pilkada DKI kemaren. Saya juga tidak tahu, apakah ia ikut mencoblos atau tidak. Pastinya, ini sikap yang tidak dewasa dalam berpolitik.

Rohaniawan Franz Magnis Suseno sendiri, juga tidak setuju dengan kelakuan komponis Ananda Sukarlan dan teman-temannya yang WO di acara tersebut. Ada beberapa pandangan yang beliau utarakan. Dan saya sendiri setuju dengan pandangan itu.

Sebagaimana dikutip dari suara dot com, ada lima hal alasan kenapa Romo Franz Magnis Suseno tidak setuju dengan aksi WO tersebut.

Pertama, Panitia sudah tepat mengundang Gubernur DKI Jakarta. Maklum saja, Kanisius adalah salah satu sekolah ternama di DKI Jakarta. Dan usianya juga bukan kemaren sore. Sudah 100 tahun.

Kedua, Anis Baswedan sama sekali tidak mengucapkan dalam pidatonya sesuatu yang tidak senonoh, jahat, menghina, dan sejenisnya. Maka, dalam konteks ini tindakan WO menunjukkan permusuhan terhadap pribadi gubernur, yang merupakan suatu penghinaan publik .

Ketiga, Anis Baswedan adalah gubernur sah, dipilih secara demokratis oleh mayoritas warga Jakarta.

Keempat, Sikap yang benar adalah memberikan kesempatan kepada Anis Baswedan kesempatan untuk membuktikan dirinya mampu memimpin DKI Jakarta.

Kelima, Ananda Sukarlan berhak menolak Anis Baswedan. Hanya saja mungkin harus bisa menempatkan diri.

Nah, itulah alasannya kenapa aksi WO itu sama sekali tidak layak dilakukan. Pilkada DKI Jakarta sudah usai. Gubernur pun terpilih secara demokratis. Usah diperpanjang lagi. Jikalau setiap orang berbuat demikian, maka kapan kedamaian akan berlaku di Negara kita ini? Kapan kita akan maju? Pilkada hanyalah jalan, bukan tujuan. Jikalau sudah sampai di tujuan, maka lupakan jalan yang penuh dengan onak duri tadi. Berbuatlah untuk masa yang akan datang, demi kemajuan bersama. Persatuan, kesatuan, dan keutuhan bangsa harus dijaga, dengan jiwa dan darah kita.

Tabik,
Denis Arifandi Pakih Sati


TAGS umum


Terimakasih Atas Kunjungan Anda. Salam Kenal. Salam Bersahabat
-

Search