Kita Seharusnya Berterimakasih Kepada Setya Novanto?

20 Nov 2017

Setya Novanto akhirnya menemuinya “takdirnya.” Sebagai tersangka kasus korupsi KTP Elektronik yang menghebohkan jagad maya dan menjadi Trend di Media Sosial karena hilang dari sergapan KPK dan kecelakaan dengan tiang listrik, plus harus menginap di Rumah Sakit efek dari kecelakaan, takdir yang seharusnya dijalaninya adalah berada di rumah tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dan itu sudah terwujud di hari Minggu (19/11/2017) jelang tengah malam.

Setya Novanto tiba di gedung KPK setelah dipindahkan dari RSCM Kencana ke rutan KPK. Dan tragisnya lagi, Setya Novanto yang merupakan ketua DPR RI saat ini; ketua dari seluruh wakil rakyat yang berasal dari seluruh Indonesia, dipaksa harus memakai rompi oranye khas rompi tahanan KPK.

Kenapa Kita Harus Berterimakasih Kepada Setya Novanto?

Satu hal yang paling membahagiakan, menurut pandangan saya, dari sekian banyak meme dan nada sarkas yang tersebar luas di Media Sosial adalah persatuan dan kesatuan para Netizen dalam memerangi korupsi dan para pelaku korupsi.

Tidak ada ada Netizen yang terbelah. Semuanya satu suara; Korupsi adalah musuh. Dalam masalah korupsi, tidak ada lagi istilah pro Jokowi-pro Prabowo, tidak ada lagi istilah pro Ahok-pro Anis, tidak ada lagi istilah Kaum Bumi Datar-Para Kecebong. Tidak ada lagi saling hina, saling merendahkan, saling menjatuhkan satu sama lainnya.

Ini menurut saya yang paling membanggakan.

Korupsi, apapun alasannya, adalah kejahatan paling mengenaskan dalam konteks Bernegara di Indonesia ini. Bagaimana tidak, uang yang seharusnya digunakan untuk kepentingan umum, kepentingan rakyat banyak, agar mereka bisa mendapatkan kesejahteraan dan kehidupan lebih baik, malah dirampok segelintir orang yang berbuat itu juga atas nama rakyat. Sialnya lagi, kadangkala mereka juga wakil rakyat. Kesana kemari kampanya anti korupsi, mereka sendiri adalah biangya korupsi.

Harapannya, harmoni seperti ini juga seharusnya ada dalam pilkada dan pileg yang hampir setiap tahunnya ada. Apalagi nanti di pilpres 2019. Kita berharap pilpres ini berjalan adem. Tidak seperti pilpres 2014 yang hawanya panas, dan sampai sekarang masih terasa panas.

Cukuplah pilkada, pilpres itu hanya menjadi jalan untuk mendapatkan pemimpin. Jikalau sudah didapatkan, ya sudah. Lupakan semua. Konsen menghadap ke hadapan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Jangan sampai kita korbankan masa depan bangsa ini demi ego pribadi dan kelompok. Kalau kita mencari sukanya kita, maka bisa jadi yang kita sukai itu adalah sesuatu yang dibenci oleh yang lainnya.

Maka, sikap lapang dada adalah jalan terbaik yang bisa kita tempuh dalam hidup berbangsa.
Maka, sekali lagi, salah satu kata yang paling layak kita haturkan kepada Bapak Setya Novanti adalah: “Terimakasih, kami sudah diajarkan untuk Satu Kata.”
Tiang Listrik? Saya rasa tidak usah berterimakasih. Hehe…

Tabik,
Denis Arifandi Pakih Sati


TAGS umum


Terimakasih Atas Kunjungan Anda. Salam Kenal. Salam Bersahabat
-

Search